Jangan Adu Rakyat vs Rakyat – TB Hasanuddin Tegaskan Komcad Tak Boleh Hadapi Demo Mahasiswa
Jangan Adu Rakyat vs Rakyat, TB Hasanuddin Tegaskan Komcad Tak Boleh Hadapi Demo Mahasiswa
Jangan Adu Rakyat vs Rakyat - Politisi dari Komisi I DPR, Mayjen TNI (Purn) TB Hasanuddin, menyoroti keputusan pemerintah untuk menggerakkan Komponen Cadangan (Komcad) dalam menghadapi aksi demonstrasi mahasiswa di Jakarta. Ia menilai bahwa langkah tersebut tidak sesuai dengan konteks dan peran Komcad dalam sistem pertahanan negara.
Berdasarkan UU 23 Tahun 2019
Dalam pernyataannya, TB Hasanuddin mengacu pada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sumber Daya Nasional untuk Pertahanan Negara. Menurut UU ini, Komcad hanya diperbolehkan dikerahkan saat kondisi perang atau keadaan darurat yang diumumkan secara resmi oleh Presiden. Hal tersebut menegaskan bahwa Komcad merupakan salah satu elemen pertahanan yang diatur dengan tujuan spesifik, bukan untuk menghadapi isu sosial biasa.
Menurut TB Hasanuddin, penggunaan Komcad dalam situasi demonstrasi mahasiswa menunjukkan penyimpangan dari prinsip pengelolaan keamanan. "Dalam situasi normal, Komcad tidak seharusnya menjadi pihak yang menghadapi aksi penyampaian pendapat rakyat," ujarnya.
Kemarin, 500 ASN Diarahkan ke Jakarta
Kementerian Pertahanan sempat memberikan perintah untuk menggerakkan sekitar 500 Aparatur Sipil Negara (ASN) anggota Komcad dalam rangka Apel Siaga di Jakarta pada 12 Juni 2026. Keputusan ini terjadi sehari setelah Kementerian menerbitkan Surat Nomor B/752/VI/2026/BACADNAS yang dikeluarkan pada 11 Juni 2026. Surat tersebut menjadi dasar pengerahan Komcad dalam menjaga ketertiban di tengah aksi demonstrasi yang sedang berlangsung.
Dalam keterangan resmi, TB Hasanuddin menegaskan bahwa pemangkasan Komcad ke lapangan tidak hanya bertentangan dengan aturan hukum, tetapi juga tidak sesuai dengan fokus utama Komcad sebagai bagian dari komponen cadangan. "Fungsi Komcad adalah memperkuat kemampuan pertahanan, bukan untuk bertindak sebagai penjaga keamanan dalam situasi damai," katanya.
“Kekhawatiran masyarakat sipil itu masuk akal. Bayangkan apabila aksi demonstrasi mahasiswa berhadapan langsung dengan Komcad yang juga ASN, bila terjadi benturan maka hal itu berpotensi memicu konflik horizontal,” kata TB Hasanuddin dalam keterangannya, Minggu (14/6/2026).
Fungsi Komcad dalam Situasi Damai
TB Hasanuddin menjelaskan bahwa Komcad dirancang untuk berperan dalam kondisi khusus, seperti bencana alam besar atau situasi perang. Dalam keadaan damai, komponen ini lebih ditekankan pada pembinaan dan penguatan kapasitas organisasi, bukan untuk dikerahkan dalam penyampaian pendapat di ruang publik.
"Komcad digunakan dalam keadaan perang atau keadaan khusus, seperti menghadapi kondisi tertentu seperti bencana alam besar. Penggunaannya juga harus berdasarkan perintah Presiden," tambah TB Hasanuddin.
Dalam konteks demonstrasi mahasiswa, ia menekankan bahwa aparat pengamanan yang lebih tepat adalah polisi atau satuan-satuan keamanan yang diperuntukkan untuk menghadapi situasi sosial. "Kebijakan menggerakkan Komcad dalam aksi penyampaian pendapat rakyat bisa menciptakan ketegangan yang tidak perlu, terutama jika masyarakat merasa dianggap sebagai ancaman," jelasnya.
Konflik Horizontal Jadi Perhatian Utama
TB Hasanuddin mengingatkan bahwa penggunaan Komcad saat kondisi damai bisa berdampak pada kepercayaan masyarakat. Ia menilai, jika Komcad digunakan untuk menghadapi aksi mahasiswa, maka hal itu akan memicu persepsi bahwa kekuasaan diterapkan secara sepihak.
"Masyarakat mungkin merasa terjepit karena mereka dikhawatirkan menjadi korban tindakan keamanan yang tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Ini bisa memperparah ketegangan antar kelompok," tegasnya.
Dalam beberapa hari terakhir, aksi mahasiswa menjadi sorotan publik karena menggambarkan kecemasan atas isu-isu kebijakan yang dinilai belum memenuhi harapan. TB Hasanuddin menambahkan bahwa keberadaan Komcad dalam keadaan damai seharusnya lebih berfokus pada pelatihan dan pembekalan, bukan menjadi bagian dari sistem penegakan hukum.
Respon Viral dari Mahasiswa
Aksi penolakan terhadap pengerahan Komcad semakin viral di media sosial, terutama di kampus besar seperti UGM. Tiyo Ardianto, seorang tokoh kampus, menanggapi keputusan tersebut dengan mengungkap bahwa mahasiswa terpaksa melakukan demo karena merasa tidak didengar oleh pihak berwenang.
"Mahasiswa melalui aksi mereka menginginkan dialog yang lebih terbuka. Jika pihak pemerintah masih mengandalkan kekuatan fisik seperti Komcad, maka kita harus waspada akan potensi konflik yang bisa memperumit kondisi," kata Tiyo Ardianto dalam wawancara eksklusif.
Reaksi viral ini menunjukkan bahwa keputusan menggerakkan Komcad di tengah aksi mahasiswa telah memicu kecemasan masyarakat. Banyak netizen menyebut bahwa langkah ini berpotensi mengubah suasana demonstrasi menjadi perang saudara dalam skala kecil, terutama jika adu mulut atau konflik yang terjadi di lapangan tidak terkontrol.
Dengan semua ini, TB Hasanuddin menegaskan bahwa Komcad harus dipakai sesuai dengan konstitusi dan peraturan yang berlaku. "Penggunaan Komcad dalam demonstrasi mahasiswa menunjukkan kelemahan dalam mengelola situasi sosial. Masyarakat harus merasa aman, bukan dijepit oleh kekuasaan yang tidak tepat waktu," pungkasnya.