PondokKebaikan
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Gempa Pacitan Terasa hingga Yogyakarta, KAI Sempat Hentikan Perjalanan Kereta

Published Juni 28, 2026 · Updated Juli 16, 2026 · By Joko Setiawan

Gempa Tektonik Pacitan Menyebabkan Gangguan pada Operasional Kereta API

Important News - Sabtu, 27 Juni 2026, pukul 14.47 WIB, sebuah gempa tektonik dengan skala 5,3 menggoyang bagian timur laut Pacitan, Jawa Timur. Episentrum getaran ini berada di ketinggian 96 kilometer dari daerah tersebut, dengan kedalaman 53 kilometer. BMKG mengonfirmasi bahwa gempa yang terjadi tidak memiliki potensi menimbulkan gelombang tsunami, meskipun guncangannya dirasakan hingga wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Gempa bumi tersebut berdampak pada sejumlah daerah di DIY, seperti Kulon Progo, Bantul, Sleman, dan Kota Yogyakarta. Banyak masyarakat mengaku merasakan getaran dari kejadian tersebut. Seorang warga setempat, Sri, menyatakan bahwa guncangan gempa terasa cukup kuat, namun tidak menyebabkan kerusakan pada rumahnya.

"Iya kerasa gempa sebentar, lumayan kenceng tapi aman," ujar Sri saat dikonfirmasi, Sabtu siang.

KAI, operator kereta api di Daop 6 Yogyakarta, langsung mengambil langkah preventif dengan menghentikan sementara operasional 15 perjalanan kereta. Tindakan ini dilakukan sebagai upaya memastikan kondisi infrastruktur tetap stabil setelah gempa. Dalam pernyataannya, Manager Humas KAI Daop 6 Yogyakarta, Feni Novida Saragih, menjelaskan bahwa prosedur ini wajib dilakukan untuk menjaga keamanan penumpang.

Kereta api yang sempat dihentikan mencakup beberapa rute utama seperti KA Matarmaja, Argo Wilis, Argo Dwipangga, Fajar Utama YK, Kertanegara, Sancaka, Taksaka, Joglosemarkerto, Commuter Line Yogyakarta-Palur, hingga KA Bandara YIA dan Bandara Adi Soemarmo. Dengan adanya penghentian ini, petugas KAI berkesempatan melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap jalur rel, jembatan, prasarana pendukung, serta kondisi rangkaian kereta.

Analisis BMKG: Gempa Dangkal Akibat Aktivitas Subduksi

Berdasarkan laporan BMKG, gempa yang terjadi pada 27 Juni 2026 termasuk dalam kategori gempa dangkal yang disebabkan oleh proses subduksi lempeng. Mekanisme pergerakan naik (thrust fault) menjadi faktor utama dalam pemicu getaran tersebut. Episenter berada di koordinat 9,05 derajat Lintang Selatan dan 111,11 derajat Bujur Timur, yang mengarah ke arah timur laut Pacitan.

Dari perspektif intensitas, BMKG mencatat bahwa gempa terasa dengan tingkat III MMI di Pacitan, Wonogiri, Tulungagung, dan Blitar. Sementara itu, wilayah DIY seperti Kulon Progo, Bantul, Sleman, serta Kota Yogyakarta mengalami getaran dengan intensitas II MMI. Intensitas ini menunjukkan bahwa guncangan masih terasa, namun tidak terlalu kuat.

Tim BMKG terus memantau kemungkinan adanya gempa susulan dalam beberapa hari ke depan. Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, dalam keterangan tertulis menegaskan bahwa hasil pemodelan menunjukkan tidak ada potensi tsunami dari gempa ini. "Hasil pemodelan tsunami menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami," kata Wijayanto.

Langkah KAI dalam Memastikan Keselamatan

Setelah pemeriksaan menyeluruh dilakukan, tim KAI menyatakan bahwa seluruh jalur rel dan prasarana telah dinyatakan aman. Dengan demikian, operasional kereta api di Daop 6 Yogyakarta dilanjutkan secara bertahap. Feni Novida Saragih menambahkan bahwa prosedur ini memastikan bahwa setiap aspek keselamatan tetap terjaga, terutama setelah kejadian gempa.

Perusahaan kereta api tersebut juga memberikan rekomendasi kepada warga untuk tetap waspada dan memperhatikan informasi terkini. BMKG mengimbau masyarakat tidak terburu-buru mempercayai berita yang belum dapat dipastikan kebenarannya. Warga diminta untuk menghindari bangunan yang mengalami kerusakan akibat gempa dan mengikuti arahan dari pihak resmi melalui berbagai kanal komunikasi.

KAI Daop 6 Yogyakarta berkomitmen untuk memberikan layanan transportasi yang aman dan terpercaya. Setelah memastikan kondisi prasarana tidak terganggu, layanan kereta kembali berjalan normal dengan jadwal yang diatur kembali. Upaya ini menunjukkan respons cepat dari pihak berwenang dalam mengatasi situasi darurat akibat gempa.

Dampak dari gempa tersebut tidak hanya terbatas pada infrastruktur transportasi, tetapi juga berpengaruh pada kehidupan sehari-hari masyarakat. Pada daerah yang terkena getaran, aktivitas harian seperti pergi ke pasar atau sekolah sempat terganggu. Namun, tidak ada laporan tentang kerusakan parah atau korban jiwa.

KAI Daop 6 Yogyakarta juga memberikan penjelasan bahwa setiap perjalanan kereta api memiliki protokol khusus dalam menghadapi gempa. Proses pemeriksaan prasarana yang dilakukan petugas melibatkan inspeksi terhadap seluruh bagian rel dan kesiswaan kereta. Dengan upaya ini, risiko kecelakaan selama operasional kereta bisa diminimalkan.

Dari kejadian ini, KAI menggarisbawahi pentingnya kewaspadaan dan persiapan terhadap bencana alam. "KAI berkomitmen untuk menjaga keselamatan penumpang dan prasarana transportasi dengan respons yang cepat dan terukur," kata Feni Novida Saragih.