PondokKebaikan
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Facing Challenges: GERD Kambuh, Dokter Tifa Pakai Kursi Roda usai Pemeriksaan di RS Polri

Published Juni 20, 2026 · Updated Juni 20, 2026 · By Dewi Hidayat

Dokter Tifa Menggunakan Kursi Roda Usai GERD Kambuh di RS Polri

Facing Challenges - Dokter Tifa, salah satu tersangka dalam kasus dugaan fitnah terkait keaslian ijazah Presiden ke-7 Indonesia, Joko Widodo, mengalami kambuhnya GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) saat menjalani pemeriksaan di Rumah Sakit (RS) Polri Kramat Jati, Jakarta Timur. Faktor utama yang memicu kondisi ini adalah tekanan mental dan kelelahan akibat rangkaian aktivitas akademik yang ia lalui sebelum diperiksa. Dalam situasi ini, kata "Facing Challenges" muncul sebagai tema yang membayangi kehidupan Dokter Tifa selama proses penyidikan.

Kondisi Kesehatan dan Pengaruh Psikologis

Setelah pemeriksaan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Polri, Dokter Tifa harus menggunakan kursi roda untuk berpindah ke ruang rawat inap. Menurut pengakuan kuasa hukumnya, Refly Harun, kondisi kesehatannya memburuk akibat lelah, stres, dan keadaan tubuh yang tidak sempat makan sejak pagi hari. "Kondisi bawaan Dokter Tifa, seperti GERD, kambuh karena faktor-faktor ini," katanya dalam wawancara di Jakarta, Jumat malam.

"Dokter Tifa memiliki kondisi bawaan, salah satunya GERD. Penyakit ini kambuh karena kelelahan, stres yang tinggi, dan belum makan sejak pagi hari," ujar Refly Harun dalam wawancara di Jakarta, Jumat malam, seperti dikutip dari ANTARA.

Kondisi ini memperlihatkan betapa besar pengaruh tekanan psikologis dan fisik terhadap kesehatan para tersangka. Dalam kasus yang menimpa Dokter Tifa, "Facing Challenges" bukan hanya tentang proses hukum, tetapi juga perjuangan dalam menjaga kesehatan sambil tetap berpartisipasi dalam tugas akademik. Aktivitas sehari-hari, seperti menghadiri seminar disertasi, memperparah kondisi kesehatannya hingga memerlukan bantuan alat bantu gerak.

Kondisi Roy Suryo dan Proses Detensi

Roy Suryo, tersangka lainnya, juga dirawat di RS Polri Kramat Jati. Ia tiba di lokasi bersama Dokter Tifa pada Jumat (19/6/2026) sekitar pukul 17.55 WIB, diawalinya dengan pengawalan dari Polda Metro Jaya. Meski tidak mengalami kondisi kesehatan spesifik seperti GERD, Roy Suryo tetap menghadapi "Facing Challenges" selama detensi karena kondisi fisiknya yang memburuk akibat kelelahan.

Saat berpapasan dengan polisi, Roy Suryo mengepalkan tangan sambil mengucapkan, "Siap," sebagai tanda keteguhan. Sementara itu, Dokter Tifa mengenakan rompi tahanan berwarna oranye sebelum menjalani pemeriksaan kesehatan. Keduanya ditemani tim medis, yang berupaya menjaga kesehatan mereka selama proses penyidikan. Meski tidak merinci jenis penyakit Roy Suryo, Refly Harun menyebutkan bahwa ini menjadi bagian dari "Facing Challenges" yang dihadapi para tersangka.

Proses Penyidikan dan Pengaruh pada Aktivis

Kedua tersangka, Dokter Tifa dan Roy Suryo, ditangkap pada hari yang sama oleh aparat kepolisian. Dokter Tifa ditangkap di apartemennya pada pukul 06.47 WIB, sementara Roy Suryo ditahan di pagi hari, sekitar pukul 07.00 WIB. Keduanya tiba di RS Polri dengan sikap yang menunjukkan "Facing Challenges" dalam menghadapi proses penyidikan yang berdampak pada kesehatan fisik dan mental.

Dokter Tifa langsung menjalani pemeriksaan medis setelah tiba di RS Polri. Tim medis memberikan rekomendasi rawat inap agar kondisinya tetap diawasi. Hal ini terjadi karena hasil evaluasi menunjukkan bahwa GERD yang kambuh membutuhkan perawatan intensif. Sementara itu, Roy Suryo mengalami penurunan kondisi yang cukup signifikan, meski tidak diberi diagnosis spesifik. "Kondisi kesehatan ini memperlihatkan bahwa penyidikan kasus bisa mengganggu kesejahteraan tersangka," tambah Refly Harun.

"Penyakit Roy tidak spesifik dan cukup umum. Sebagian besar masyarakat Indonesia mengalami kondisi serupa," ujar Refly Harun, menjelaskan bahwa Roy Suryo menderita penyakit yang bisa terjadi pada banyak orang. Ia tidak merinci jenis penyakit yang dialami tersangka tersebut, tetapi menyatakan bahwa ini bukan hal yang tidak mungkin terjadi.

Konteks Kasus dan Dampak pada Aktivis

Kasus yang menyeret Dokter Tifa dan Roy Suryo ke dalam penyidikan kriminal memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan para tersangka. Selain faktor fisik, tekanan psikologis dari masyarakat dan media menjadi salah satu penyebab utama. Dalam situasi ini, "Facing Challenges" bukan hanya tentang menjalani pemeriksaan, tetapi juga menghadapi kritik dan tekanan selama proses hukum.

Proses detensi dan pemeriksaan di RS Polri memperlihatkan bagaimana "Facing Challenges" menjadi bagian dari kehidupan para tersangka. Meski kondisi kesehatan mereka memburuk, keduanya tetap berusaha menjaga sikap tenang dan fokus. Hal ini menunjukkan semangat perjuangan yang diharapkan dari seorang dokter dan aktivis yang tengah menghadapi ujian kriminal. Keduanya menunggu perkembangan selanjutnya sambil menjaga kesehatan yang terganggu selama proses penyidikan.