PondokKebaikan
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Di Tengah Hilirisasi Nikel, Perempuan Pulau Obi Menemukan Jalan Baru Gerakkan Ekonomi

Published Juli 16, 2026 · Updated Juli 16, 2026 · By Lia Maulana

Di Tengah Hilirisasi Nikel, Perempuan Pulau Obi Bangkitkan Ekonomi

Di Tengah Hilirisasi Nikel Perempuan Pulau - Pulau Obi yang terletak di Halmahera Selatan kini menjadi salah satu pusat utama hilirisasi nikel di Indonesia. Kehadiran industri besar-besaran tidak sekadar mengubah lanskap fisik pulau yang memiliki luas empat kali lipat wilayah Singapura, tetapi juga membuka lembaran baru dalam kehidupan ekonomi masyarakat setempat. Di tengah transformasi besar ini, perempuan-perempuan lokal menemukan cara baru untuk bergerak dan berkembang.

Kesempatan yang datang tersebut berhasil disikapi positif oleh warga melalui berbagai inisiatif usaha baru. Mulai dari kelompok usaha mikro kecil dan menengah, penyedia bahan makanan, hingga pelaku bisnis lokal telah menjadi bagian integral dari rantai pasok di sekitar kawasan industri. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku aktif dalam pembangunan ekonomi.

Dari Ibu Rumah Tangga Menjadi Pemimpin Kelompok

Salah satu sosok yang berhasil menginspirasi ialah Delila Nomor, seorang warga Desa Kawasi. Tujuh tahun silam, kehidupan Delila dihabiskan sebagai ibu rumah tangga biasa. Ia tidak pernah membayangkan dirinya akan memimpin sebuah kelompok usaha yang kini memiliki 31 anggota perempuan. Momen转折点 datang ketika tim community development Harita Nickel mendorongnya untuk mengembangkan produk berbahan lokal yang bisa diolah lebih lanjut.

Delila kemudian memilih untuk membuat abon ikan sebagai produk pertamanya. Perjalanan yang ditempuh tentu tidak selalu mulus. Produk pertama yang dihasilkan bahkan belum memenuhi standar yang ditetapkan sehingga belum bisa dipasarkan secara komersial. Delila bersama para anggota kelompok terus melakukan perbaikan. Mereka menyempurnakan resep, mempelajari teknik pengolahan yang lebih baik, menghitung masa simpan produk, hingga menyempurnakan kemasan.

"Saya sebenarnya tidak tahu bikin abon. Tapi saya belajar sendiri. Pokoknya jatuh bangun dari awal," kenangnya.

"Awalnya cuma tahan satu minggu. Terus kami belajar lagi sampai satu bulan, akhirnya bisa enam bulan," ujarnya.

Ekspansi Bisnis dan Pengakuan Standar HAM

Tidak berhenti pada pengembangan produk, mereka juga belajar mengurus sertifikasi halal, pencatatan usaha, hingga pengelolaan bisnis secara profesional. Bekal pengetahuan tersebut menjadi fondasi kuat ketika kelompok perempuan Kawasi mulai mengembangkan berbagai produk olahan pangan khas Pulau Obi melalui Kelompok Obi Jaya Mandiri. Hari ini, kelompok Obi Jaya Mandiri yang dipimpin Delila telah beranggotakan 31 perempuan.

Mereka memproduksi berbagai makanan olahan seperti abon ikan, keripik pisang, sambal, air guraka atau jahe, manisan pala, dan berbagai camilan khas lainnya. Harita Nickel juga telah masuk dalam daftar perusahaan tambang yang memenuhi standar perlindungan hak asasi manusia. Hal ini memberikan kepercayaan lebih bagi masyarakat lokal untuk bermitra dengan perusahaan.

Tak berhenti di situ, kelompok ini juga mengelola Nyala Cafe dan Hop Mart, dua unit usaha yang berada di dalam kawasan industri Harita Nickel. Dengan begitu, Delila dan anggota kelompoknya tidak hanya memproduksi makanan, tetapi juga memiliki saluran untuk memasarkan produknya. Dari kedua unit usaha itu Delila juga belajar bagi para anggotanya untuk mengelola operasional usaha, keuangan, hingga sumber daya manusia.

Pada 2025, Nyala Cafe membukukan omzet sekitar Rp985 juta, sementara Hop Mart mencapai Rp2,7 miliar. Bagi Delila, capaian tersebut menunjukkan bahwa usaha yang dimulai dari kelompok kecil ibu rumah tangga kini mampu berkembang menjadi bisnis yang memberi manfaat bagi banyak orang. Nyala Cafe dan Hop Mart sendiri mempekerjakan lima karyawan yang seluruhnya dikelola oleh kelompok.

"Yang paling besar justru dilihat dari kehadiran. Kalau ada pesanan rica ayam atau pekerjaan lain, siapa yang aktif bekerja, pembagiannya juga lebih besar," kata Delila.

Modal usaha berasal dari para anggota dengan nilai investasi yang berbeda-beda sesuai kemampuan masing-masing. Menariknya, pembagian keuntungan tidak hanya didasarkan pada besarnya modal. Transformasi ekonomi di Pulau Obi ini menjadi contoh nyata bagaimana masyarakat lokal dapat beradaptasi dan berkembang seiring dengan kehadiran industri besar. Melalui semangat gotong royong dan pembelajaran berkelanjutan, perempuan-perempuan di pulau kecil ini telah membuktikan bahwa mereka mampu menjadi agen perubahan yang membawa kesejahteraan bagi komunitasnya.