Announced: Sindir Jokowi? Hasto Soroti Simbol 21061961 di Film Ghost in the Cell: Joko Anwar Sangat Cerdas!
Sindir Jokowi? Hasto Soroti Simbol 21061961 dalam Film Ghost in the Cell: Joko Anwar Terbukti Sangat Cerdas
Announced - Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan), Hasto Kristiyanto, memberikan tanggapan terhadap film arahan sutradara Joko Anwar berjudul *Ghost in the Cell* yang baru saja diputar di Jakarta. Dalam kesempatan tersebut, Hasto tidak hanya menikmati film tersebut sebagai hiburan tetapi juga menganggapnya sebagai karya yang memperlihatkan sisi kritis tentang korupsi dan keserakahan di masyarakat.
Simbolisme Tanggal Lahir Jokowi dalam Karakter Koruptor
Dalam film *Ghost in the Cell*, Hasto menyoroti sebuah detail yang menarik perhatian, yakni karakter koruptor bernama Prakasa Kitabuming. Karakter ini memiliki nomor registrasi tahanan yang mencerminkan tanggal lahir Presiden ke-7 Indonesia, Joko Widodo, atau Jokowi, yaitu 21 Juni 1961. Angka 21061961 ini dianggap sebagai simbol yang sengaja disisipkan oleh Joko Anwar untuk mengkritik praktik korupsi yang terjadi di lingkungan pemerintahan.
“Ini sangat simbolik. Maka ini film yang mencerdaskan,” ujar Hasto setelah pemutaran film tersebut.
Hasto menilai pilihan Joko Anwar untuk menggunakannama Prakasa Kitabuming yang identik dengan tanggal lahir Jokowi adalah langkah yang sangat cerdas. Ia menjelaskan bahwa simbol ini memiliki makna khusus, karena memperlihatkan bagaimana individu yang berada di posisi puncak bisa terlibat dalam tindakan kejahatan yang merugikan rakyat.
Kritik Terhadap Kebijakan dan Sistem Politik
Menurut Hasto, film ini menampilkan gambaran yang sangat tajam tentang ketidakadilan dalam sistem politik dan sosial Indonesia. Karakter Prakasa Kitabuming digambarkan sebagai seorang pengusaha yang tamak, namun tetap bisa menikmati kemewahan meskipun tubuhnya terkurung dalam balik jeruji besi. Detail ini menunjukkan bagaimana koruptor bisa merugikan masyarakat sambil menikmati keuntungan di balik penjara.
“Dalam film ini Joko Anwar dengan sangat cerdas menyampaikan bagaimana ada pengusaha yang sangat tamak sehingga ketika dia ditangkap di penjara pun karena kasus korupsi, maka pengusaha yang namanya Prakarsa Kitabuming ini kemudian masih menikmati kemewahan yang luar biasa,” ungkapnya.
Hasto juga menekankan pentingnya gotong royong sebagai solusi terhadap kegagalan sistem sosial dan politik. Ia mengatakan bahwa film ini tidak hanya mengkritik tindakan korupsi tetapi juga menyampaikan pesan kuat tentang perlu adanya perubahan dalam cara masyarakat berbangsa dan bernegara. “Kita harus bersama-sama membangun kesadaran baru dengan bergotong royong sebagai sari pati Pancasila,” tambah Hasto.
Potret Distopia dan Peringatan untuk Masa Depan
Hasto mengingatkan bahwa film *Ghost in the Cell* bisa menjadi cerminan dari kondisi negara yang jika tidak dikelola dengan baik, akan memicu keadaan yang lebih buruk. Ia menilai adegan-adegan yang menampilkan ketakutan dan kengerian dalam sistem penjara adalah gambaran dari distopia yang bisa terwujud jika masyarakat tidak peduli pada tata kelola negara.
Kritik yang disampaikan Joko Anwar dalam film ini dianggap oleh Hasto sebagai bentuk peringatan yang tajam. Ia menekankan bahwa ketidakadilan yang ditampilkan dalam layar adalah bagian dari kehidupan nyata jika sistem tidak diperbaiki. “Meskipun nampak ada kengerian, tapi itulah kalau negara tidak dikelola dengan baik,” jelas Hasto.
Kemewahan di Penjara: Narasi yang Mengejutkan
Salah satu momen yang membuat penonton terkesan adalah bagaimana karakter Prakasa Kitabuming bisa tetap hidup mewah di penjara. Hasto menilai ini menunjukkan bagaimana sistem penjara Indonesia tidak cukup memperketat pengawasan terhadap pelaku korupsi. “Kemewahan yang dinikmati oleh pelaku korupsi di balik jeruji besi menunjukkan bahwa kekuasaan bisa dibawa ke dalam lingkungan penjara,” katanya.
Ia juga menyebutkan bahwa film ini memiliki makna yang lebih dalam, yakni sebagai alat untuk memicu refleksi masyarakat terhadap korupsi yang terjadi di berbagai lapisan. “Ini bukan sekadar film, tapi cerminan kehidupan nyata yang memperlihatkan kontradiksi antara kenyataan dan keinginan,” tambah Hasto.
Harapan Melalui Kekompakan Tahanan
Sementara itu, Hasto menyebutkan bahwa film ini memiliki secercah harapan di akhir cerita. Ia menyoroti momen ketika para tahanan yang berasal dari kelompok berbeda akhirnya bersatu untuk menentang Prakasa Kitabuming dan sipir penjara yang telah lama menyiksa mereka secara zalim. “Aliansi ini menunjukkan bahwa semangat kebersamaan bisa menjadi peluang untuk merubah situasi yang tidak adil,” ujar Hasto.
Kepada penonton, Hasto menegaskan bahwa adegan tersebut menegaskan nilai-nilai kebersamaan yang menjadi inti dari Pancasila. Ia menganggap film ini tidak hanya memberikan kritik tetapi juga menginspirasi masyarakat untuk melihat potensi perubahan melalui persatuan.
Film *Ghost in the Cell* yang dibuat oleh Joko Anwar ini disebut Hasto sebagai karya yang memiliki kesan menohok. Ia menilai sutradara tersebut sangat mahir dalam menyisipkan pesan-pesannya melalui detail kecil yang tidak terlewatkan oleh penonton. “Kritik sosial dan politik yang disampaikan dalam film ini bisa memicu kesadaran publik tentang pentingnya transparansi dan akuntabilitas,” tambah Hasto.
Dalam acara nonton bareng yang digelar oleh Kulturnesia sebagai bagian dari peringatan Bulan Bung Karno di Megaria, Jakarta Pusat, Hasto memperkuat argumennya dengan menunjukkan bagaimana film ini menggambarkan keadaan distopia yang bisa terjadi jika sistem sosial dan politik tidak berjalan dengan baik. Ia menilai bahwa film ini menjadi salah satu bentuk seni yang memadukan hiburan dengan pendidikan.
Hasto juga menyebutkan bahwa Joko Anwar tidak hanya mengkritik korupsi tetapi juga menyampaikan pesan tentang pentingnya keadilan dan perbaikan sistem. “Film ini bisa menjadi bahan diskusi bagi masyarakat untuk memperbaiki keadaan yang sekarang,” pungkas Hasto.
Sebagai penutup, Hasto menegaskan bahwa *Ghost in the Cell* adalah film yang memiliki dampak sosial yang besar. Ia menilai bahwa film ini memperlihatkan bagaimana kekuasaan bisa disalahgunakan dan bagaimana masyarakat bisa menjadi penentu perubahan. “Ini adalah salah satu langkah cerdas untuk menyampaikan pesan yang mendalam,” tambahnya.