PondokKebaikan
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Tim Jibom Polda Papua Musnahkan 2 Granat Nanas Peninggalan Perang Dunia II

Published Juni 28, 2026 · Updated Juni 28, 2026 · By Fajar Wibowo

Operasi Penjinak Bom di Jayapura: Dua Granat Nanas dari Perang Dunia II Dihancurkan

Tim Jibom Polda Papua Musnahkan 2 Granat - Sebuah operasi pemusnahan bahan peledak berlangsung di Lapangan Terbang Udara (Lanud) Silas Papare, Kota Jayapura, pada Sabtu (27/6/2026). Tim Penjinak Bom (Jibom) dari Detasemen Gegana Satuan Brimob Polda Papua, bekerja sama dengan anggota TNI Angkatan Udara, berhasil menghancurkan dua granat aktif jenis nanas yang diduga merupakan peninggalan Perang Dunia II. Proses penanganan ini dianggap penting untuk mencegah risiko ledakan yang bisa mengancam keselamatan warga sekitar.

Persiapan dan Keamanan Operasi

Sebelum memulai tindakan pemusnahan, tim melakukan persiapan yang ketat untuk memastikan prosedur penanganan bahan peledak berjalan aman. Area pembuangan sampah yang dipilih menjadi lokasi operasi karena kondisi fisik granat yang sudah sangat rentan dan berpotensi menghasilkan serpihan atau getaran berbahaya. Keselamatan fasilitas di sekitar Lanud serta masyarakat menjadi prioritas utama dalam pengambilan keputusan.

“Pemusnahan dua granat tersebut berlangsung lancar di area Lanud Silas Papare. Proses penanganan dilaksanakan secara profesional dan sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) penanganan bahan peledak,” ujar AKP Priyono, Kasie Humas Polres Jayapura, dalam keterangan resminya, Minggu (28/6).

Pemusnahan bahan peledak ini menjadi langkah mitigasi setelah inspeksi teknis menemukan bahwa granat tersebut tidak stabil. Personel Jibom menyatakan bahwa penimbunan granat dalam tanah selama puluhan tahun menyebabkan korosi berat pada bagian mekanisme pengaman, sehingga memicu risiko tinggi jika tidak segera ditangani.

Identifikasi Bahan Peledak dan Kondisi Terkini

Granat yang dihancurkan dikenal sebagai jenis pineapple tipe 97, yang digunakan selama Perang Dunia II. Berdasarkan hasil pemeriksaan oleh para ahli, kedua granat tersebut tidak memiliki sistem pengaman yang utuh. Maka, tim memutuskan untuk menghancurkannya langsung di lokasi ditemukan guna mengurangi ancaman terhadap personel atau masyarakat.

“Kedua granat tersebut sudah tidak memiliki sistem pengaman yang utuh. Oleh karena itu, tim menyimpulkan benda tersebut sangat berisiko apabila dipindahkan ke lokasi yang jauh atau disimpan dalam waktu lama. Tindakan disposal di tempat adalah solusi paling aman,” tambah Priyono.

Pada pukul 16.30 WIT, operasi dilakukan dengan hati-hati di area terbuka yang jauh dari pemukiman. Setelah penghancuran selesai, tim melanjutkan pembersihan daerah sekitar untuk memastikan tidak ada sisa material bahan peledak yang tertinggal. Tindakan ini dilakukan sebagai upaya meminimalkan dampak potensial pada lingkungan dan kehidupan sehari-hari warga Jayapura.

Penemuan dan Pelaporan oleh Anggota Kopasgat

Dua granat tersebut pertama kali ditemukan oleh dua anggota Yonko 481 Kopasgat saat sedang membuang sampah di area penampungan limbah Lanud Silas Papare. Mereka mengenali benda itu sebagai bahan peledak dan segera melaporkan ke pihak berwenang. Berkat laporan cepat, tim Jibom dapat segera meluncur ke lokasi untuk melakukan penanganan.

“Menyadari benda tersebut diduga merupakan bahan peledak, keduanya segera melaporkan kepada pihak Kepolisian atau TNI agar penanganan dapat dilakukan oleh personel yang memiliki keahlian khusus,” ujar Priyono.

Keberadaan granat nanas tipe 97 di Jayapura menunjukkan bahwa dampak Perang Dunia II masih terasa hingga hari ini. Meski secara fisik granat sudah tidak aktif, mereka tetap bisa menyebabkan kerusakan jika tidak dihancurkan secara tepat. Pemusnahan di lokasi ditemukan dianggap lebih efektif karena menghindari kemungkinan ledakan saat transportasi atau penyimpanan.

Peringatan untuk Masyarakat

Kasie Humas Polres Jayapura, AKP Priyono, mengimbau masyarakat agar tidak menyentuh atau mencoba membuka benda-benda yang mencurigakan. Peninggalan perang seperti granat nanas bisa berpotensi meledak kapan saja, terutama jika terkena benturan atau kelembapan yang berlebihan.

“Apabila menemukan benda serupa, masyarakat diminta segera melaporkannya kepada pihak Kepolisian atau TNI agar penanganan dapat dilakukan oleh personel yang memiliki keahlian khusus,” katanya.

Granat nanas tipe 97 memiliki ukuran sekitar lima sentimeter dalam diameter dan sepuluh sentimeter panjang. Beratnya mencapai satu kilogram, membuatnya rentan terhadap lingkungan sekitar. Sementara itu, penjinak bom menjelaskan bahwa kondisi granat yang rusak akibat korosi membuat mereka menjadi ancaman serius, bahkan tanpa ada penggunaan kembali.

Operasi ini menegaskan kembali pentingnya kesadaran masyarakat tentang bahaya bahan peledak yang tertinggal dari masa perang. Meski tidak digunakan lagi, granat lama masih bisa mengancam keamanan. Dengan menindaklanjuti laporan awal, tim Jibom berhasil menghindari potensi krisis yang bisa terjadi jika granat itu tidak segera dihancurkan.

Proses disposal di Lanud Silas Papare juga menggambarkan koordinasi yang baik antara Polri dan TNI AU. Langkah ini bukan hanya untuk menyingkirkan bahan peledak, tetapi juga sebagai bagian dari upaya menjaga kestabilan lingkungan serta keamanan wilayah Papua. Pemusnahan granat nanas tipe 97 ini menjadi contoh nyata betapa pentingnya riset dan pemeriksaan teknis dalam menangani benda-benda berbahaya yang ditemukan di wilayah.

Dari segi teknis, granat nanas tipe 97 memiliki desain khusus yang memungkinkan mereka meledak dengan kekuatan signifikan. Meski telah disimpan di tanah selama bertahun-tahun, perangkat pengaman yang rusak masih memungkinkan ledakan terjadi saat kondisi tertentu. Dengan menempatkan granat tersebut di area terbuka dan menjamin sterilisasi, tim Jibom mencapai tujuan penanganan yang optimal.

Sebagai penutup, AKP Priyono menekankan bahwa keberhasilan operasi ini berkat kesiapan tim dan kerja sama dengan TNI AU. Masyarakat diminta tetap waspada, terutama saat membuang sampah di area yang sebelumnya pernah menjadi lokasi tempat peninggalan perang. Kesadaran ini menjadi kunci untuk mencegah insiden serupa di masa depan.

Memoria Passionis: Membaca Papua dari Kecantikan sampai Luka

Artikel "Membaca Papua Lewat Memoria Passionis: Catatan Luka dari Timur Nusantara" menyoroti sejarah dan kisah-kisah yang terus terbawa