PondokKebaikan
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Key Strategy: Ancol Kaji Hapus Tiket Per Orang, Siapkan Skema ‘Special Zone’ Berbasis Parkir

Published Juni 23, 2026 · Updated Juni 23, 2026 · By Indah Wibowo

Ancol Kaji Hapus Tiket Per Orang, Siapkan Skema 'Special Zone' Berbasis Parkir

Key Strategy - Ancol sedang mengevaluasi kebijakan tarif masuk yang sebelumnya berbasis biaya per orang. Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol, Syahmudrian Lubis, mengungkapkan bahwa rencana ini melibatkan perubahan besar dalam sistem pembayaran, dengan mengganti tarif per orang menjadi pendekatan berbasis parkir. Perubahan ini bertujuan untuk membuat akses ke kawasan wisata lebih fleksibel dan sesuai dengan kebutuhan pengunjung.

Konsep Dua Zona untuk Memisahkan Pengunjung

Dalam rangka mewujudkan skema baru, Ancol berencana menerapkan konsep zonasi dua. Tujuannya adalah memisahkan antara pengunjung yang ingin mengakses wahana berbayar dan mereka yang hanya menikmati fasilitas rekreasi sederhana. Skema ini akan mengubah cara pengunjung memasuki kawasan, dengan pintu masuk yang berbeda berdasarkan jenis layanan yang diinginkan.

Saat ini, biaya masuk Ancol masih berupa tarif flat per kendaraan, ditambah Rp35 ribu per orang. Namun, manajemen berencana mengubah pola ini agar lebih efisien. Pengunjung yang hanya ingin menikmati kawasan rekreasi tanpa mengakses wahana berbayar akan dikenai tarif parkir saja, sementara pengunjung yang masuk ke wahana akan tetap dikenai biaya masuk sesuai aturan yang berlaku.

Pelaksanaan dalam Tahap Kajian

Syahmudrian Lubis menjelaskan bahwa skema baru ini masih dalam tahap evaluasi. Ia menegaskan bahwa perubahan ini merupakan langkah strategis untuk meningkatkan pengalaman pengunjung serta mengoptimalkan pendapatan dari sektor parkir. "Kami sedang meninjau beberapa aspek, termasuk dampaknya terhadap jumlah pengunjung dan pengelolaan lalu lintas," tutur Syahmudrian.

Menurutnya, zonasi ini akan memudahkan pengunjung yang hanya ingin menikmati area rekreasi ringan, seperti taman atau jalur jalan kaki, tanpa perlu membayar biaya masuk wahana. "Dengan model ini, pengunjung yang hanya datang untuk bersantai akan lebih nyaman, sementara pengunjung yang ingin menjelajah wahana tetap bisa memasuki area dengan tarif yang berbeda," lanjutnya.

Pendekatan Parkir sebagai Alternatif Utama

Skema "special zone" yang dikemukakan Syahmudrian akan menerapkan pendekatan parkir sebagai pengganti tarif per orang. Dalam sistem ini, pengunjung yang masuk ke area rekreasi tanpa wahana tidak perlu membayar tiket masuk, hanya dikenai biaya parkir kendaraannya. "Ini bisa menjadi solusi untuk meningkatkan daya tarik Ancol bagi pengunjung yang lebih tertarik dengan suasana santai," katanya.

Menurut Syahmudrian, konsep ini bertujuan untuk mengurangi beban pengunjung yang hanya ingin menikmati fasilitas dasar. Ia menambahkan, sistem tarif parkir akan lebih praktis karena biaya tersebut bisa diperhitungkan secara lebih akurat berdasarkan waktu penggunaan kendaraan. "Dengan zonasi ini, pengelolaan lalu lintas dan pembayaran bisa lebih terstruktur," ujarnya.

Karangan Bunga Hitam Putih KDM di HUT Jakarta Curi Perhatian, Ketua DPRD DKI: Unik

Sementara itu, momen HUT DKI Jakarta ke-499 menjadi perhatian khusus. Di hari ini, Ancol memberlakukan pembebasan tarif masuk untuk pengunjung. Ini merupakan bagian dari penerapan skema special zone yang sedang dikaji. "Jadi, kami memberlakukan penghapusan tarif masuk pada acara khusus seperti hari ini," jelas Syahmudrian.

Manajemen juga merencanakan kebijakan serupa pada 27 dan 28 Juni mendatang. "Dalam waktu dekat, kami berharap bisa menerapkan skema baru secara permanen," tegas Syahmudrian. Ia menekankan bahwa rencana ini dirancang untuk segera diterapkan setelah evaluasi selesai, sehingga pengunjung dapat merasakan perubahan tersebut secara nyata.

Hasil Evaluasi dan Harapan Manajemen

Syahmudrian Lubis mengungkapkan bahwa kebijakan baru ini merupakan hasil dari evaluasi mendalam yang dilakukan tim manajemen. "Kami sudah mengumpulkan data dari berbagai aspek, termasuk respons pengunjung dan kelayakan finansial," katanya. Ia berharap skema ini dapat mengurangi pengeluaran pengunjung yang tidak ingin memasuki wahana, sekaligus meningkatkan pendapatan dari sektor parkir.

Dalam wawancara di Jakarta International Stadium, Senin (22/6/2026), Syahmudrian menyebut bahwa perubahan ini menjadi bagian dari upaya Ancol untuk modernisasi operasional. "Ini adalah langkah awal dalam menyesuaikan tarif dengan kebutuhan pengunjung yang berbeda," tambahnya. Ia menegaskan bahwa perubahan ini tidak akan menghilangkan keuntungan dari wahana berbayar, tetapi akan menawarkan pilihan yang lebih beragam.

Pelaksanaan skema baru ini diperkirakan akan memberikan dampak positif terhadap pengalaman pengunjung. Dengan adanya dua pintu masuk yang berbeda, pengunjung bisa memilih cara yang paling sesuai dengan tujuan mereka. Syahmudrian juga mengatakan bahwa pihaknya sedang berdiskusi dengan berbagai pihak untuk memastikan keberlanjutan kebijakan ini. "Kami akan terus memantau respons pengunjung sebelum penerapan resmi," pungkasnya.

Pengujian Skema dan Pelaksanaan Selanjutnya

Kebijakan ini belum sepenuhnya diterapkan, tetapi manajemen Ancol yakin akan mendapatkan hasil yang baik. Syahmudrian menjelaskan bahwa pengujian skema special zone akan dilakukan terlebih dahulu sebelum diterapkan secara menyeluruh. "Kami ingin memastikan bahwa model ini tidak menimbulkan kesulitan bagi pengunjung," katanya.

Dalam beberapa hari ke depan, Ancol akan mengamati keberhasilan pelaksanaan kebijakan ini di acara HUT DKI Jakarta. "Jika berjalan lancar, kami akan segera menerapkannya secara permanen," tambah Syahmudrian. Ia menargetkan bahwa skema baru ini bisa diimplementasikan dalam waktu singkat, sehingga pengunjung tidak perlu menunggu lama untuk menikmati perubahan tersebut.

Keputusan ini juga diharapkan bisa menjadi contoh bagi kawasan wisata lain di Indonesia. Dengan pendekatan tarif berbasis parkir, Ancol berusaha menyesuaikan diri dengan tren pengelolaan kawasan yang lebih modern. "Kami ingin menjadi pionir dalam mener