PondokKebaikan
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Key Discussion: Jalan Cinta Amblas Nyaris 90 Derajat, DKI Bongkar Pemicunya: Tanggul Kali Sunter Retak!

Published Juli 8, 2026 · Updated Juli 8, 2026 · By Joko Setiawan

Jalan Cinta Amblas Nyaris 90 Derajat, DKI Bongkar Pemicunya: Tanggul Kali Sunter Retak!

Key Discussion - Kerusakan parah di Jalan Cinta, Pulogadung, Jakarta Timur, memicu perhatian pihak berwenang setelah sebagian besar badan jalan amblas. Menurut informasi dari Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta, penyebab utama kejadian tersebut adalah retaknya tanggul yang mengalir di sepanjang Kali Sunter. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas infrastruktur daerah, terutama karena risiko banjir dan erosi terus mengancam.

Langkah Darurat untuk Meminimalkan Dampak Kerusakan

Sementara itu, Pemerintah Kota Jakarta Timur telah melakukan tindakan sementara untuk mengatasi masalah yang terjadi. Mereka memasang kayu dolken di sekitar area yang terkena longsor sebagai upaya mencegah penurunan badan jalan semakin parah. Langkah ini dilakukan sebagai antisipasi sebelum perbaikan permanen diimplementasikan, yang akan mulai dilaksanakan tahun ini.

“Sudin SDA sudah mengambil langkah darurat dengan memasang kayu dolken untuk menahan bahaya penurunan jalan,” kata Wali Kota Jakarta Timur Munjirin kepada wartawan. Ia menekankan bahwa pihaknya telah mempersiapkan penanganan sejak lama, guna memastikan kondisi infrastruktur tetap stabil.

Penyebab Kerusakan dan Perbaikan Infrastruktur

Kepala Bidang Pengendalian Banjir dan Drainase Dinas SDA DKI Jakarta, Ericson Indra Pulungan, menjelaskan bahwa kerusakan tersebut bukan hanya akibat dari retaknya tanggul, tetapi juga terkait dengan kondisi aliran sungai yang tidak optimal. Ia menambahkan bahwa perbaikan tidak hanya sebatas memperbaiki jalan yang rusak, tetapi juga memperkuat struktur tanggul untuk mencegah insiden serupa terjadi lagi.

“Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas SDA akan melakukan perbaikan perkuatan tanggul dan berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum melalui BBWSCC, yang memiliki kewenangan pengelolaan Kali Sunter,” ujar Ericson dalam wawancara Selasa (7/7/2026). Ia menegaskan bahwa penanganan menyeluruh diperlukan karena kerusakan terjadi pada area yang berfungsi sebagai penahan sungai.

Menurut Ericson, kondisi jalan yang amblas menunjukkan adanya kelemahan pada sistem drainase dan embankmen. Karena itu, perbaikan permanen tidak hanya fokus pada pemulihan badan jalan, tetapi juga memperbaiki infrastruktur terkait agar lebih tahan terhadap tekanan lingkungan. Proses persiapan untuk tindakan tersebut sudah berjalan, dan diperkirakan akan segera dilaksanakan pada tahun ini.

Kerusakan yang Terjadi Sejak Maret 2026

Kerusakan di Jalan Cinta terjadi sejak Maret 2026, saat pertama kali terlihat penurunan permukaan jalan. Ruas sepanjang sekitar 100 meter terus mengalami erosi hingga akhirnya sebagian besar badan jalan amblas. Akibatnya, kemiringan jalan mencapai sekitar 90 derajat, sehingga hanya tersisa ruang sempit yang masih bisa dilalui oleh kendaraan roda dua seperti sepeda motor.

Para warga setempat menduga bahwa penyebab utama longsor tersebut adalah aktivitas pengerukan sedimen Kali Sunter menggunakan alat berat yang beroperasi dari atas badan jalan, bukan dari dalam aliran air. Hal ini menyebabkan tekanan berlebih pada tanah di bawah jalan, yang akhirnya memicu keruntuhan.

Proyek Perbaikan Infrastruktur yang Dibuka untuk Kepuasan Publik

Kerusakan di Jalan Cinta bukan hanya menjadi perhatian lokal, tetapi juga menginspirasi peningkatan pengelolaan infrastruktur di area lain. Sebagai contoh, Pemerintah DKI Jakarta juga sedang mengembangkan proyek perbaikan permanen di Thamrin serta menyiapkan shelter ojol gratis 24 jam di berbagai terminal dan stasiun. Inisiatif ini bertujuan untuk mencegah kejadian serupa dan memastikan kenyamanan transportasi umum bagi masyarakat.

Ericson menambahkan bahwa penanganan jalan yang amblas perlu melibatkan lebih dari satu instansi. Dinas SDA DKI Jakarta akan berkolaborasi dengan Kementerian PU melalui BBWSCC, serta berkoordinasi dengan pihak terkait lainnya untuk memastikan solusi yang komprehensif. Ia menyoroti bahwa proyek ini harus direncanakan secara matang agar dapat mengatasi akar masalah, bukan hanya gejala permukaan.

Selain itu, masyarakat diminta untuk tetap waspada terhadap perubahan kondisi jalan. Meski telah diambil langkah darurat, peningkatan perbaikan infrastruktur tetap diperlukan untuk menghindari risiko besar di masa depan. Terutama, pihak berwenang perlu memastikan bahwa kegiatan pengerukan sedimen dilakukan secara hati-hati dan tidak mengganggu struktur tanah di bawah jalan.

Upaya untuk Memulihkan Fasilitas Umum

Pengembangan shelter ojol gratis 24 jam di terminal dan stasiun juga menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam memperkuat layanan transportasi umum. Wali Kota Jakarta Timur, Munjirin, menyatakan bahwa proyek ini akan menyebar ke berbagai titik strategis, termasuk daerah-daerah yang rawan kemacetan dan erosi. “Kami ingin memastikan semua lapisan masyarakat dapat mengakses transportasi dengan nyaman, bahkan di saat kondisi jalan sedang tidak stabil,” jelas Munjirin.

Ericson menyetujui langkah ini, karena kerusakan di Jalan Cinta menjadi contoh nyata bahwa keberlanjutan infrastruktur perlu dipertahankan. Perbaikan yang dilakukan pada saat ini diharapkan dapat menjadi model untuk proyek serupa di area lain. Selain itu, pihaknya juga berkomitmen untuk memastikan bahwa masyarakat terinformasi secara jelas mengenai langkah-langkah perbaikan yang diambil.

Secara keseluruhan, kejadian amblas di Jalan Cinta menunjukkan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam pengawasan pembangunan dan perbaikan infrastruktur. Pemerintah DKI Jakarta berupaya keras untuk memperbaiki kondisi tersebut, tetapi dukungan warga dalam menjaga lingkungan sekitar serta mengikuti kebijakan terkait juga diperlukan. Dengan kombinasi tindakan darurat dan perbaikan permanen, harapan besar tertuju pada pemulihan kualitas jalan dan meningkatkan keamanan transportasi bagi seluruh penduduk Jakarta Timur.