New Policy: Pedagang Taman Puring tolak rencana Pemkot Jaksel bangun taman difabel

Pedagang Taman Puring Tolak Rencana Pemkot Jaksel Bangun Taman Difabel

New Policy – Jakarta – Sejumlah pedagang yang berjualan di Taman Puring menyatakan penolakan terhadap rencana Pemerintah Kota Jakarta Selatan yang ingin mengubah ruang hijau kawasan tersebut menjadi taman difabel. Mereka merasa kekecewaan karena kesepakatan awal yang dijanjikan oleh Gubernur DKI Jakarta untuk membangun pasar kembali setelah kebakaran sembilan bulan lalu tidak terpenuhi. “Baru tahu informasi tentang pembangunan taman difabel dari berita daring. Kami sudah menunggu janji Pak Gubernur selama sembilan bulan, harapan kami adalah pasar bisa dibangun lagi,” kata Asmun, Koordinator Pedagang Lapak Taman Puring, saat diwawancara di Jakarta, Rabu.

Harapan yang Terbongkar

Asmun mengungkapkan, pedagang-pedagang di Taman Puring merasa telah melewati proses penungguan yang cukup panjang. Mereka telah menghabiskan waktu sembilan bulan sejak kebakaran yang menghancurkan pasar tersebut, dengan harapan bisa kembali berjualan di lokasi yang sama. “Kami senang saat diberitahu bahwa pasar akan direvitalisasi. Jadi, kami memutuskan bertahan di sini, menunggu kepastian pembangunan,” jelasnya. Namun, seiring berjalannya waktu, informasi tentang taman difabel muncul, yang membuat kekecewaan pedagang mengemuka.

“Kami hanya meminta sesuai janji awal, pasar ini direvitalisasi dan dibangun kembali menjadi pasar,” tambah Asmun.

Dalam kondisi yang serba sulit, para pedagang membangun tenda-tenda secara mandiri untuk memastikan usaha mereka tetap berjalan. Langkah ini dilakukan sebagai upaya menyesuaikan dengan perubahan lingkungan setelah kebakaran. “Saat kebakaran terjadi, kami diberi informasi bahwa kawasan akan diubah menjadi pasar baru. Jadi, kami tidak pernah mengira akan ada rencana taman difabel,” katanya.

Lihat Juga :   Polisi usut pelaku curanmor diduga letuskan tembakan di Kembangan

Pemkot Jaksel: Tujuan Revitalisasi Taman Difabel

Dalam peresmian Kantor Kecamatan Kebayoran Baru serta Embung Jagakarsa dan Embung Pemuda, Wali Kota Jakarta Selatan M. Anwar menyampaikan usulan pembangunan taman difabel dan disabilitas. Menurut Anwar, taman tersebut akan menjadi ruang hijau yang lebih ramah bagi penyandang disabilitas. “Bapak Gubernur, kalau diizinkan, saya mau bikin taman disabilitas, supaya di Jakarta Selatan ada, kita buat di situ (Taman Puring),” ujarnya.

Usulan itu disampaikan dalam konteks revitalisasi kawasan, yang sebelumnya diharapkan bisa memulihkan fungsi pasar. Namun, Anwar menyebut bahwa sejak kebakaran terjadi, pihaknya sudah melakukan penataan di area tersebut. “Alhamdulillah, pedagang pindah dengan sadar, bongkar sendiri. Hari ini kita mulai meratakan, insya Allah kembali fungsi menjadi taman kurang lebih 3.000 meter,” tambah Anwar.

Kondisi Terkini Pedagang Taman Puring

Saat ini, sekitar 180 pedagang masih bertahan di lokasi bekas kebakaran yang terjadi pada Senin (28/7/2025) lalu. Jumlah tersebut jauh lebih sedikit dibandingkan sebelum insiden, ketika pasar dihuni lebih dari 500 pedagang. Namun, meski jumlahnya berkurang, mereka tetap mempertahankan eksistensi usaha mereka di sana. Asmun menyatakan bahwa para pedagang berharap pemerintah mampu menepati komitmen awal yang diberikan setelah kebakaran.

Kritik terhadap rencana taman difabel muncul karena perubahan fungsi kawasan yang dianggap tidak sesuai dengan harapan. Mereka khawatir, jika taman difabel dibangun, ruang untuk berjualan akan berkurang, dan mata pencaharian mereka terganggu. “Kami ingin pasar tetap menjadi identitas Taman Puring, karena telah menjadi sumber penghidupan bagi banyak keluarga selama puluhan tahun,” imbuh Asmun.

Antisipasi dan Perubahan Peran

Menurut Anwar, taman difabel diharapkan bisa memberikan manfaat lebih luas untuk masyarakat, khususnya bagi penyandang disabilitas. “Pembangunan taman ini bukan hanya mengembalikan fungsi ruang hijau, tapi juga menciptakan aksesibilitas yang lebih baik untuk semua kalangan,” jelasnya. Namun, hal ini justru berkonflik dengan harapan para pedagang yang menganggap taman difabel sebagai ancaman terhadap usaha mereka.

Lihat Juga :   Facing Challenges: Mantan istri Andre Taulany dilaporkan atas dugaan penganiayaan ART

Pemkot Jaksel mengatakan bahwa penataan di Taman Puring sudah berjalan sejak kebakaran. Mereka menegaskan bahwa para pedagang telah berpindah secara sukarela, sehingga lokasi bisa segera diubah menjadi taman. “Kami berupaya memberikan ruang untuk semua orang, termasuk penyandang disabilitas. Dengan taman difabel, aksesibilitas di kawasan akan meningkat,” kata Anwar.

Harapan dan Penolakan yang Berujung pada Perdebatan

Sejumlah pedagang menilai, penolakan mereka bukan sekadar karena ingin tetap berjualan, tapi juga karena kekecewaan terhadap komitmen yang tidak terpenuhi. Mereka menilai, taman difabel tidak dapat menggantikan pasar sebagai pusat kegiatan ekonomi. “Kami merasa seperti dibuat-buat, karena sebelumnya ada janji pembangunan pasar, tapi sekarang tiba-tiba diubah menjadi taman difabel,” kata Asmun.

Di sisi lain, pemerintah mempertahankan bahwa taman difabel adalah bagian dari upaya revitalisasi kawasan yang lebih berkelanjutan. Mereka menekankan bahwa kebutuhan masyarakat penyandang disabilitas harus diprioritaskan. “Kami berharap ada keseimbangan antara kebutuhan pedagang dan kebutuhan masyarakat umum, termasuk disabilitas,” jelas Anwar.

Sebagai akibat dari perdebatan ini, beberapa pedagang memilih untuk tetap berjualan di lokasi bekas kebakaran, sementara yang lain mengungsi ke tempat lain. Pemkot Jaksel sedang berusaha memperjelas tujuan revitalisasi, termasuk menggambarkan manfaat taman difabel sebagai ruang publik yang lebih inklusif. Namun, penolakan dari para pedagang tetap menjadi isu utama yang perlu diperhatikan.

Perjalanan Revitalisasi yang Berubah

Sebelum kebakaran, Pasar Taman Puring merupakan pusat aktivitas ekonomi yang vital bagi warga sekitar. Ratusan pedagang berjualan di sana, menawarkan berbagai kebutuhan sehari-hari dengan harga terjangkau. Kehadiran taman difabel yang diusulkan oleh Pemkot Jaksel membuat para pedagang merasa bahwa tujuan revitalisasi mereka tidak terpenuhi. “Masa kebakaran belum selesai, sudah ada yang mengubah tujuan menjadi taman difabel? Kami merasa kecewa,” kata Asmun.

Lihat Juga :   Pemkot Jakbar basmi 234 kg ikan sapu-sapu dengan dikubur

Dengan demikian, penolakan pedagang bukan hanya sekadar perlawanan terhadap rencana taman difabel, tapi juga sebagai bentuk keinginan mereka untuk mempertahankan identitas pasar yang sudah ada. Mereka berharap, kawasan tersebut tetap menjadi tempat berjualan yang nyaman dan berkelanjutan, seiring dengan harapan mereka yang telah menunggu selama sembilan bulan. Pemkot Jaksel, sementara itu, berupaya untuk menjelaskan bahwa rencana taman difabel adalah bagian dari upaya memperbaiki kawasan yang lebih luas, termasuk meningkatkan kenyamanan bagi semua pengguna ruang publik.

Dalam upaya memenuhi kebutuhan masyarakat, Pemkot Jaksel mencoba menawarkan opsi yang lebih fleksibel. Namun,