Kebijakan Baru: DKI manfaatkan peringatan kemarau untuk percepat pengerukan kali

DKI Manfaatkan Peringatan Kemarau untuk Percepat Pengerukan Kanal

Jakarta – Pemerintah DKI Jakarta memanfaatkan informasi cuaca kemarau panjang yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebagai langkah untuk mempercepat penggalian kanal di ibu kota. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menjelaskan bahwa keputusan ini bertujuan mempersiapkan kota menghadapi musim hujan yang diprediksi datang di bulan September 2026.

“BMKG memperkirakan curah hujan akan menurun sejak pertengahan April ini, termasuk dampak El Nino hingga bulan September. Dengan itu, pemerintah fokus pada penyelesaian pekerjaan penggalian kanal dan normalisasi sungai,” ujar Pramono saat ditemui di Jakarta Pusat, Jumat.

Pada hari yang sama, Pramono melakukan inspeksi langsung di Kanal Banjir Barat, khususnya pada bagian Pintu Air Manggarai hingga Jalan Kyai Tapa (Roxy) di Tanah Abang. Proses tersebut diharapkan selesai dalam waktu satu tahun, menurut informasi yang disampaikan oleh gubernur.

Target Volume dan Segmen Pengerukan

Kanal Banjir Barat memiliki lebar yang berbeda, berkisar antara 30 hingga 100 meter, dengan rencana total volume penggalian mencapai 179.269 meter kubik. Proyek dibagi menjadi tiga bagian, yakni: 1) Pintu Air Manggarai hingga Stasiun Karet (3.543 meter), 2) Stasiun Karet hingga Pintu Air Karet (686 meter), dan 3) Pintu Air Karet hingga Jalan Kyai Tapa (Roxy) (3.850 meter).

Saat ini, pengerukan lebih dulu difokuskan pada segmen ketiga, dengan volume target sekitar 165.381 meter kubik. Dalam jangka panjang, hasil dari upaya ini akan digabungkan dengan program normalisasi sungai, terutama di wilayah aliran Sungai Ciliwung dan Kali Krukut.

Lihat Juga :   Program Terbaru: Pramono bantah isu pemindahan kampus IKJ ke Kota Tua

Harapan untuk Pengurangan Risiko Banjir

Pramono menyatakan bahwa tujuan utama dari pengerukan adalah mempercepat aliran air ke laut, sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya banjir. Namun, tantangan tetap ada, terutama saat terjadi rob yang bisa menghambat proses tersebut.

“Kalau ini berhasil, aliran air ke laut akan lebih cepat. Meski ada tantangan saat rob, ini bagian dari upaya besar untuk mengendalikan banjir,” tambah Pramono dalam wawancara terpisah.