Key Discussion: Sejumlah WNI rayakan Idul Adha di Beijing meski tanpa potong kurban

Sejumlah WNI Rayakan Idul Adha di Beijing Meski Tanpa Potong Kurban

Key Discussion – Dalam suasana kota Beijing yang dinamis, sejumlah Warga Negara Indonesia (WNI) memutuskan merayakan hari raya Idul Adha tahun ini di Masjid Haidian, Rabu (27 Mei). Meski tidak dilakukan ritual pemotongan hewan kurban seperti tradisi di Tanah Air, acara shalat Idul Adha di sana tetap menjadi ajang kebersamaan yang menggabungkan spiritualitas dengan adaptasi budaya. Jamaah, termasuk pendatang, merasa puas karena tetap merasakan nuansa keagamaan mereka meski dalam kondisi yang berbeda.

Komunitas Muslim di Beijing: Penyesuaian Tradisi

Kegiatan ibadah di Masjid Haidian dimulai pukul 08.00, dengan dua imam memimpin takbir yang mengiringi shalat. Sebelumnya, pembacaan ayat-ayat pendek dari Al-Qur’an menjadi bagian dari pengantar. Sebanyak 200 jamaah dari berbagai negara, termasuk WNI, hadir, mengungkapkan bahwa pengaturan waktu dan lokasi shalat di sini lebih fleksibel. Key Discussion: Penyesuaian ini menunjukkan keakraban komunitas Muslim dengan lingkungan lokal, sambil menjaga keintinan tradisi.

“Saya pilih shalat di sini karena lebih praktis, lokasinya dekat kampus dan jadwalnya bisa disesuaikan dengan rutinitas,” ujar Fatikha Laras Sinindyas, mahasiswi S2 di Universitas Renmin. “Di kedutaan, shalat dimulai lebih awal dan jaraknya jauh, sehingga kurang nyaman untuk saya.”

Perbedaan dalam Tata Cara Shalat

Key Discussion: Cara pelaksanaan shalat Idul Adha di Beijing berbeda dari praktik di Indonesia. Donny Bagas Kuncoro, mahasiswa S2 di Universitas Sains dan Teknologi, menjelaskan bahwa di sini, khotbah dilakukan sebelum shalat dimulai, berbeda dari kebiasaan di Tanah Air. Meski alur berbeda, ia menegaskan bahwa suasana ibadah tetap khidmat dan mantap. Takbir dalam rakaat pertama diulang empat kali, sementara rakaat kedua hanya tiga kali, yang disesuaikan dengan kondisi masjid dan kesesuaian waktu.

“Di Indonesia, takbir biasanya dimulai sebelum membaca surat al-Fatihah. Di sini, alurnya sedikit berbeda, tetapi tetap memberi kesan sakral,” tambah Laras. “Jadi, meski ada perubahan, semangat spiritual tetap terjaga.”

Khotbah dalam Dua Bahasa: Efektivitas Komunikasi

Key Discussion: Perayaan Idul Adha di Masjid Haidian menampilkan dua khotbah, yang disampaikan dalam bahasa Mandarin dan Arab. Khotbah pertama terjadi sebelum shalat, sementara khotbah kedua diadakan setelah upacara selesai. Upaya ini dirasa efektif dalam menyampaikan pesan agama kepada jamaah dengan latar belakang beragam. “Dengan khotbah dalam bahasa Mandarin, peserta yang tidak memahami Arab bisa mengikuti jalannya secara lebih baik,” jelas Donny.

Lihat Juga :   Latest Update: Rusia dan Ukraina saling tuduh langgar gencatan senjata 3 hari

Sejumlah jamaah menyebut bahwa metode ini memperkuat hubungan antara Muslim lokal dan internasional. Key Discussion: Meski ada perbedaan teknis, penggunaan dua bahasa memastikan bahwa makna keagamaan tetap terasa bagi semua peserta, baik yang mahir berbahasa Arab maupun tidak.

Alternatif Sedekah: Teknologi sebagai Pengganti

Sementara ritual pemotongan hewan kurban tidak bisa dilakukan, jamaah tetap menjalankan tugas sosial melalui bentuk lain. Key Discussion: Sedekah di sini diberikan melalui QR code atau uang tunai, bukan secara langsung seperti di Tanah Air. Metode ini dianggap efisien, terutama mengingat situasi keterbatasan ruang dan waktu. Meski kurang lengkap dibanding tradisi lama, peserta merasa puas karena tetap bisa berbagi.

Key Discussion: Selain itu, pengaturan tempat duduk untuk jamaah perempuan menjadi perhatian khusus. “Panitia mengarahkan jamaah lain untuk merapatkan saf, sehingga perempuan bisa duduk lebih nyaman,” kata Laras. Perubahan ini menunjukkan peningkatan kenyamanan, seiring berkembangnya kesadaran akan kebutuhan semua kalangan dalam kegiatan ibadah.

Kemajuan Komunitas Muslim di Beijing

Key Discussion: Pertumbuhan jumlah jamaah di Masjid Haidian mencerminkan semakin aktifnya komunitas Muslim di Beijing. Donny mengungkapkan bahwa kehadiran orang-orang dari berbagai negara menunjukkan bahwa Idul Adha menjadi momen yang tidak hanya spiritual, tetapi juga sosial. “Dari 2025 sampai 2026, jumlah peserta meningkat, menandakan bahwa perayaan ini semakin meriah,” katanya.

Key Discussion: Meski jauh dari Tanah Air, kekhusyukan beribadah di Beijing tetap terjaga. “Proses shalat di sini mirip dengan di Indonesia, baik dalam kesan dan keakraban,” tambah Donny. Faktor seperti fasilitas masjid dan keamanan yang terjaga membuat perayaan bisa berjalan lancar, meski tanpa elemen tradisional seperti pemotongan kurban.