Historic Moment: Evaluasi I.League, masih ada pelanggaran disiplin cukup tinggi di EPA
Evaluasi I.League, Masih Ada Pelanggaran Disiplin Cukup Tinggi di EPA
Historic Moment – Dari Jakarta, Direktur Kompetisi I.League Asep Saputra menilai bahwa masih banyak pelanggaran disiplin yang terjadi dalam kompetisi Elite Pro Academy (EPA) musim ini. Meski telah selesai pada Minggu di Lapangan Garudayaksa Football Academy, Bekasi, dengan kemenangan 1-0 Persija Jakarta U20 atas Malut United U20 dalam final EPA Super League U20, penyelidikan terus berlangsung. Asep menegaskan bahwa upaya perbaikan disiplin harus terus dilakukan, baik oleh klub, pengurus I.League, ofisial, wasit, maupun penonton, agar tujuan utama EPA tercapai, yaitu membentuk atlet muda yang profesional.
Hasil Lengkap Kompetisi EPA Musim Ini
Sebelum final EPA Super League U20, beberapa tim telah meraih gelar dalam kategori usia berbeda. Persik Kediri menjadi juara EPA Super League U16, sementara Malut United U20 mengangkat piala untuk kategori U18. Di sisi lain, final EPA Championship U19 yang berlangsung pada Sabtu berhasil dimenangkan oleh Sumsel United. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa EPA berhasil menggelar tiga kategori kompetisi dalam musim ini, yaitu U16, U18, dan U20, dengan partisipasi aktif dari berbagai klub.
Insiden Disiplin yang Viral di EPA
Satu kasus disiplin yang memperoleh perhatian luas terjadi dalam pertandingan U20 antara Bhayangkara Presisi Lampung melawan Dewa United Banten di Stadion Citarum, Semarang, pada 19 April. Insiden tersebut memicu kekacauan di akhir pertandingan, di mana pemain Bhayangkara, Fadly Alberto Hengga, yang juga anggota timnas U17, melakukan tendangan bergaya karate kepada pemain Dewa United, Rakha Nurkholis. Kedua pihak sempat terlibat perdebatan panas, namun akhirnya sepakat berjabat tangan untuk menyelesaikan situasi tersebut secara damai.
Walaupun konflik tersebut berakhir dengan kesepakatan, tindakan Hengga tetap menimbulkan sanksi dari Komite Disiplin PSSI. Pemain tersebut dikenai hukuman larangan bermain selama tiga tahun, sebagai bentuk konsekuensi atas pelanggaran sportivitas. Insiden ini menunjukkan bahwa meski ada upaya pencegahan, disiplin dalam kompetisi masih menjadi tantangan yang signifikan.
Langkah untuk Memperkuat Disiplin di EPA
Asep Saputra menjelaskan bahwa pihaknya telah mengambil langkah-langkah tegas untuk menekan pelanggaran disiplin. “Kita perlu memperkuat kampanye disiplin melalui forum diskusi bersama, serta menegaskan hukuman yang sesuai dengan kode disiplin yang berlaku,” katanya dalam wawancara dengan media, termasuk ANTARA, setelah acara penutupan EPA Super League U20. Ia menambahkan bahwa hukuman tersebut diharapkan memberi efek jera, meskipun tetap memperhatikan aspek pengembangan pemain di usia muda.
Menurut Asep, pelanggaran disiplin bukan hanya akibat kurangnya kesadaran individu, tetapi juga karena kurangnya pembinaan secara menyeluruh. “Kita harus membentuk mental profesional di sepanjang jalur pertandingan, mulai dari para pemain hingga penonton,” ujarnya. Ia menekankan bahwa semua pihak memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan pertandingan yang adil dan sportif.
Perubahan dan Inovasi untuk Musim Depan
Dalam kesempatan yang sama, Asep Saputra mengungkapkan bahwa kompetisi EPA Super League tidak akan mengalami perubahan signifikan di musim depan. Kategori U16, U18, dan U20 akan tetap diadakan, dengan fokus pada pengembangan pemain di usia muda. Namun, ia juga menyebutkan adanya penambahan kategori usia dalam EPA Championship, yang sebelumnya hanya menampilkan U19.
Pelatih I.League berharap penambahan ini bisa memberi ruang bagi lebih banyak tim untuk berpartisipasi. Selain itu, Asep mengatakan bahwa format kompetisi mungkin akan diubah di musim depan. “Kita berencana menggabungkan beberapa sistem seperti ‘round-robin’ dan ‘swiss’, atau juga mengkombinasikan ‘home and away’ dengan ‘centralized’ untuk laga-laga yang dilakukan di luar Jawa,” tambahnya. Ia menyebutkan bahwa rencana ini telah mencapai 70 persen kejelasan, dan akan segera diumumkan kepada semua klub.
Komentar Asep Saputra tentang Kebutuhan Perbaikan
Asep Saputra menegaskan bahwa meskipun ada beberapa keberhasilan, masih ada pekerjaan rumah besar yang perlu diperbaiki. “Tujuan utama EPA adalah membentuk pemain muda yang profesional dan menjunjung tinggi nilai sportivitas, tetapi kita masih perlu menghadapi tantangan seperti ini,” ujarnya. Ia berharap insiden-insiden disiplin yang terjadi selama musim ini bisa menjadi pelajaran untuk menyempurnakan sistem kompetisi di masa depan.
Menurut Asep, kesadaran akan profesionalisme harus terus ditingkatkan, terutama dalam situasi yang memicu emosi tinggi. “Kita juga perlu melibatkan penonton dan ofisial dalam memastikan pertandingan berjalan lancar dan tidak memicu konflik yang tidak perlu,” pungkasnya. Ia optimis bahwa dengan langkah-langkah yang sudah diambil, EPA bisa menjadi lembaga yang lebih baik dalam membangun bakat sepak bola Indonesia.
Peran PSSI dan Keterlibatan Seluruh Pihak
Komite Disiplin PSSI menjadi salah satu lembaga yang terlibat dalam menegakkan aturan di EPA. Asep menyoroti pentingnya keterlibatan aktif seluruh pihak, termasuk klub, wasit, dan penonton, dalam menjaga sportivitas. “Ini bukan hanya tugas dari pengurus I.League, tetapi juga dari para pemain dan penggemar yang harus menghargai pert