Pembahasan Penting: Awal 2026, Kredit Perbankan Naik hampir 10 Persen
Awal 2026, Kredit Perbankan Naik hampir 10 Persen
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Dian Ediana Rae, menyatakan bahwa pertumbuhan kredit perbankan tetap positif di awal tahun 2026, seiring pemeliharaan profil risiko yang stabil. Data terbaru menunjukkan kredit perbankan meningkat 9,96% secara tahunan (yoy) hingga mencapai Rp8.557 triliun pada Januari 2026.
Secara kategori, kredit investasi tumbuh paling tinggi dengan angka 22,38%, diikuti kredit konsumsi sebesar 6,58% dan kredit modal kerja 4,13%. Dari sisi debitur, kredit korporasi mencatatkan pertumbuhan 16,07%. Sementara itu, kredit dari bank badan usaha milik negara (BUMN) naik 13,43% tahunan.
“Ini meningkat dibandingkan Desember 2025 yang tumbuh 9,63%,” kata Dian dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Februari 2026 di Jakarta, Selasa (3/3).
Dana pihak ketiga (DPK) juga mengalami kenaikan sebesar 13,48% yoy. Dalam bulan Desember 2025, DPK tercatat tumbuh 13,83% dengan total mencapai Rp10.076 triliun. Pertumbuhan giro, deposito, dan tabungan masing-masing mencapai 19,75%, 12,61%, dan 8,27% secara tahunan.
Kinerja likuiditas perbankan di Januari 2026 masih memadai. Rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 27,54%, turun dari 28,57% bulan sebelumnya. Sementara rasio Alat Likuid terhadap Non-Core Deposit (AL/NCD) mencapai 121,23%, lebih rendah dari 126,19% pada Desember 2025. Namun, kedua rasio tersebut tetap di atas ambang batas 50% dan 10%.
Ketahanan perbankan dinilai kuat berdasarkan Capital Adequacy Ratio (CAR) yang berada di 25,87%, sama seperti Desember lalu. Angka ini dianggap sebagai penyangga risiko yang efektif menghadapi ketidakpastian global.
Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Di tengah dinamika ekonomi global, stabilitas sektor jasa keuangan Indonesia tetap terjaga. Perekonomian negara ini tumbuh solid 5,39% pada kuartal IV 2025, mencapai total pertumbuhan 5,11% sepanjang tahun 2025. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) juga berada di zona optimistis, meskipun menunjukkan penurunan.
“Secara umum tingkat profitabilitas bank atau ROA sebesar 2,53%,” tambah Dian. Angka ini sedikit meningkat dari 2,49% di bulan Desember.
Dalam kesempatan serupa, Penjabat Sementara (Pjs) Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyoroti stabilitas sektor keuangan nasional. Meski terdapat risiko global, seperti tekanan inflasi dan kebijakan suku bunga yang lebih tinggi, perekonomian Amerika Serikat tetap menunjukkan pertumbuhan 1,4% pada kuartal IV 2025, di bawah ekspektasi pasar.
Friderica menegaskan bahwa OJK memantau ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan fragmentasi geoekonomi, yang berpotensi memengaruhi stabilitas pasar keuangan. Ia menambahkan, kenaikan ketegangan ini mendorong Lembaga Jasa Keuangan (LJK) untuk terus memantau dan mengambil langkah antisipatif.
Perekonomian Tiongkok terus menghadapi tekanan permintaan domestik, meskipun kinerja eksternalnya masih positif. Sementara, perekonomian Indonesia tetap berada dalam fase ekspansi, dengan pertumbuhan industri manufaktur yang stabil sepanjang 2025.