Amerika Serikat juara FIBA 3×3 Women’s Series Chengdu 2026
Amerika Serikat juara FIBA 3×3 Women’s Series Chengdu 2026
USA mengakhiri penantian setelah menaklukkan Jerman di babak final
Amerika Serikat juara FIBA 3×3 Women – Jakarta – Amerika Serikat (AS) berhasil meraih gelar juara pada FIBA 3×3 Women’s Series 2026 di Chengdu, Tiongkok, setelah mengalahkan Jerman dengan skor 20-18 dalam laga penentu, Sabtu (2/5) malam waktu Indonesia Barat (WIB). Kemenangan ini menandai kembali kejayaan tim berjuluk “Team USA” dalam ajang bergengsi tersebut, setelah sebelumnya mengalami periode tanpa gelar sejak 2024. Pertandingan final berlangsung sengit hingga menit akhir, dengan AS menunjukkan dominasi yang cukup mengesankan berkat penampilan luar biasa Mikaylah Williams.
Dalam pertandingan yang memperebutkan titel paling bergengsi di kompetisi ini, Jerman sempat menguasai permainan di awal pertandingan melalui kemampuan fisik Ama Degbeon di zona pertahanan. Penyerang berpengalaman ini menjadi tulang punggung tim Jerman, yang mampu mengontrol tempo pertandingan dan membangun keunggulan melalui tekanan berkelanjutan. Namun, AS menunjukkan ketahanan yang mengesankan, berkat keberhasilan Victoria Poros dalam menjaga keseimbangan serangan lewat akurasi tembakan jarak jauh. Meski demikian, tim dari benua Amerika mampu membalikkan situasi dengan kejutan akhir babak.
Saat skor berada di angka sama dan laga memasuki momen kritis, Mikaylah Williams mengubah arah pertandingan dengan tembakan dua angka yang memberi AS keunggulan 19-18. Gol ini menjadi penentu kemenangan, sebelum Sahara Williams menutup laga dengan poin penutup yang menegaskan dominasi timnya. Kemenangan ini memperkuat posisi AS sebagai salah satu tim paling kompetitif dalam seri FIBA 3×3 Women’s Series 2026, terutama setelah mereka memperlihatkan konsistensi yang memadai sepanjang turnamen.
Sebelum memasuki babak final, tim AS harus melalui babak perempat final di mana mereka menghadapi Amsterdam. Pertandingan tersebut berlangsung ketat, dengan AS menang 20-18 berkat penampilan solid seluruh pemain. Di semifinal, AS menghadapi Polandia, yang berhasil dikalahkan melalui penyelesaian akhir berupa “floating jump shot” dari Milaysia Fulwiley. Dengan kemenangan ini, AS memperlihatkan kemampuan adaptasi dan strategi yang matang dalam berbagai kondisi pertandingan.
Jerman, di sisi lain, juga menunjukkan performa yang mengagumkan sepanjang turnamen. Di babak perempat final, mereka mengalahkan Australia dengan skor 21-16, sebelum melangkah ke semifinal melalui kemenangan dramatis atas China dengan skor 16-15 di babak perpanjangan waktu. Keberhasilan Jerman dalam mengatasi lawan-lawan tangguh ini menegaskan kualitas mereka sebagai tim kuat di level internasional. Namun, AS tetap menjadi lawan yang sulit dikalahkan, terutama dengan kehadiran Mikaylah Williams yang menjadi bintang utama tim.
Mikaylah Williams dinobatkan sebagai pemain terbaik (MVP) turnamen setelah mencatatkan rata-rata 7,6 poin per laga (ppg) dan 4,6 rebound per laga (rpg). Prestasi ini memperkuat kredibilitasnya sebagai salah satu bintang muda dalam olahraga 3×3. Williams tidak hanya menjadi pengatur permainan, tetapi juga penyelesaian akhir yang andal, dengan keputusan tepat di saat yang paling penting. Kontribusinya menjadi pendorong utama keberhasilan AS meraih gelar juara setelah sekian lama.
“Keberhasilan Amerika Serikat di Chengdu menunjukkan bahwa mereka kembali menjadi kandidat utama dalam persaingan FIBA 3×3 Women’s Series tahun ini. Konsistensi dan ketajaman tim mereka dalam menghadapi berbagai lawan tidak diragukan lagi,” kata juru bicara FIBA dalam pernyataan resmi.
Sebagaimana dilansir situs resmi FIBA, kemenangan AS di Chengdu menjadi sinyal kuat bahwa mereka akan terus menjadi pelaku utama dalam ajang ini. Keberadaan tim AS di tingkat puncak menegaskan bahwa strategi dan kesiapan mereka telah mencapai titik yang matang. Dalam sejarah FIBA 3×3 Women’s Series, AS telah memenangkan beberapa gelar sebelumnya, tetapi keberhasilan di Chengdu kali ini menjadi kemenangan yang istimewa setelah sekian lama tidak terkalahkan.
Babak final di Chengdu memperlihatkan betapa intensnya persaingan di antara tim-tim kuat di kompetisi ini. Jerman dan AS saling mengalahkan satu sama lain dalam permainan yang dipenuhi tekanan, seiring upaya untuk memperoleh gelar pertama dalam setahun terakhir. Meski Jerman mencatatkan performa yang tidak kalah mengesankan, keunggulan AS dalam kecepatan dan koordinasi tim tetap menjadi faktor penentu. Pertandingan ini juga menjadi bukti bahwa FIBA 3×3 Women’s Series tidak hanya bergantung pada individu, tetapi juga pada kerja tim yang selaras.
Dalam rangkaian turnamen ini, AS membuktikan bahwa mereka mampu mempertahankan dominasi di babak akhir. Kemenangan atas Amsterdam dan Polandia sebelumnya menunjukkan kesiapan mereka menghadapi semua lawan. Di perempat final, mereka mampu mempertahankan ritme yang baik, sementara di semifinal, kejutan dari Milaysia Fulwiley memastikan langkah ke final. Mikaylah Williams, sebagai penjaga jalan, kembali menunjukkan kemampuan memimpin permainan dengan performa luar biasa di setiap babak.
FIBA 3×3 Women’s Series sendiri menjadi platform yang memperlihatkan perkembangan olahraga ini di tingkat global. Chengdu 2026 menjadi edisi yang menarik karena menampilkan pertarungan ketat antara tim-tim yang memiliki kekuatan unik. AS, dengan kecepatan dan keakuratan yang tinggi, menunjukkan bahwa mereka tetap menjadi ancaman serius. Sementara Jerman membuktikan bahwa mereka mampu membangun kembali momentum di babak akhir, meski akhirnya harus melalui kekalahan yang cukup berat.
Dengan gelar ini, Amerika Serikat mengakhiri periode lama tanpa kejuaraan dan kembali ke puncak klasemen. Kehadiran Mikaylah Williams sebagai MVP tidak hanya menjadi penghargaan individu, tetapi juga simbol kebangkitan tim tersebut. Pertandingan di Chengdu menjadi bukti bahwa olahraga 3×3 tidak hanya membutuhkan kecepatan, tetapi juga kekompakan dan ketahanan mental yang luar biasa. Harapan besar pun terbangun untuk pertandingan tahun depan, dengan AS sebagai salah satu tim yang layak dipertahankan sebagai favorit utama.
Dalam rangkaian turnamen ini, setiap pertandingan memberikan pengalaman berharga bagi para pemain. AS menunjukkan bahwa mereka tidak hanya mempunyai kekuatan fisik, tetapi juga kemampuan mengambil keputusan di saat yang tepat. Sementara Jerman memperlihatkan ketangguhan dalam menghadapi lawan-lawan berbeda,