Solution For: Kementan jaga pasokan bawang merah jelang Idul Adha 1447 H

Kementan Pastikan Pasokan Bawang Merah Tetap Stabil Sebelum Idul Adha

Solution For – Menjelang Idul Adha 1447 H, Kementerian Pertanian (Kementan) melaksanakan langkah strategis untuk menjaga ketersediaan bawang merah di berbagai daerah. Langkah ini mencakup pengawasan distribusi dan pasokan yang diperkuat dengan kolaborasi pihak-pihak terkait, termasuk perusahaan besar, lembaga pertanian, dan instansi pemerintah. Tujuan utama dari upaya tersebut adalah memastikan kebutuhan konsumen terpenuhi sambil mengendalikan fluktuasi harga di pasar.

“Selama masa Idul Adha, kita intensif mengawasi distribusi dan produksi bawang merah di seluruh Indonesia. Kemitraan dengan pemangku kepentingan seperti petani, perusahaan, dan dinas daerah menjadi kunci untuk menjaga pasokan tetap aman,” jelas Muhammad Taufiq Ratule, Direktur Jenderal Hortikultura Kementan, dalam wawancara di Jakarta, Rabu.

Ratule menambahkan bahwa Kementan terus memantau kinerja produsen utama, termasuk daerah seperti Solok, Brebes, Enrekang, Bima, Nganjuk, Bandung, Kendal, Garut, serta Probolinggo. Meski terjadi gangguan akibat cuaca ekstrem, produksi bawang merah nasional terbukti masih terjaga secara optimal. “Kami yakin pasokan tetap cukup untuk memenuhi permintaan masyarakat sepanjang liburan,” katanya.

Data produksi menunjukkan bahwa rata-rata hasil panen bawang merah di Indonesia mencapai sekitar 2 juta ton konde basah setiap tahun. Dalam bentuk rogol kering, angkanya sekitar 1,3 juta ton per tahun. Sementara kebutuhan konsumsi dalam negeri tercatat sekitar 1,26 juta ton per tahun. Angka ini membuktikan bahwa produksi nasional belum mengalami kekurangan signifikan, meski harus menghadapi tantangan cuaca yang berdampak pada beberapa sentra.

Kementan juga mengungkapkan bahwa ekspor bawang merah tetap berjalan lancar. Hal ini menunjukkan bahwa selain memenuhi kebutuhan lokal, produk pertanian ini juga berkontribusi pada perekonomian nasional. “Indonesia bisa memenuhi permintaan dalam negeri dan bahkan memasok ke luar negeri,” ujar Ratule. Untuk memperkuat pasokan, Kementan terus mengkoordinasikan seluruh pihak terkait agar distribusi tidak terganggu.

Lihat Juga :   Visit Agenda: Bulog pastikan stok beras di Jateng aman hingga akhir 2026

Perubahan Cuaca Berdampak pada Produksi

Sementara itu, Muhammad Agung Sunusi, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat di Ditjen Hortikultura Kementan, menjelaskan bahwa musim tanam Maret–Mei 2026 dihimpit tantangan cuaca ekstrem. Kondisi ini memicu serangan serangga pengganggu, seperti ulat grayak dan moler, yang mengurangi produktivitas di beberapa wilayah utama. Namun, meski terjadi penurunan produksi, distribusi bawang merah dari daerah seperti Nganjuk, Enrekang, Pati, Brebes, Temanggung, dan Garut tetap berjalan lancar.

“Meski beberapa sentra mengalami penurunan hasil, distribusi tetap aman karena koordinasi yang intens. Kami memastikan pasokan tetap merata ke berbagai daerah,” ungkap Agung dalam penjelasan terpisah.

Menurut Agung, keberhasilan distribusi tergantung pada kerja sama antara dinas pertanian setempat, petani, pelaku usaha, dan pengelola logistik. Ia menegaskan bahwa produksi diperkirakan meningkat pada Juni 2026, seiring memasuki masa panen utama di berbagai sentra. “Kami optimistis pasokan akan kembali memadai setelah musim panen berjalan,” imbuhnya.

Peran Petani dan Distribusi Rutin

Di sisi lain, petani champion bawang merah asal Enrekang, Kasmidi, menjelaskan bahwa panen di wilayahnya masih berlangsung hingga menjelang Idul Adha. Ia menuturkan bahwa hasil panen secara rutin dikirim ke Kalimantan tiga kali dalam seminggu. “Kami pastikan pasokan tetap terjaga, terutama di wilayah yang membutuhkan bawang merah secara signifikan,” katanya.

Selain itu, petani champion Solok, Amri Ismail, mengatakan panen raya di daerahnya akan berlangsung di pertengahan Juni. Hasil panen tersebut akan mendukung kebutuhan pasar Sumatra. “Dengan peningkatan pasokan, harga bawang merah diprediksi akan stabil sepanjang liburan,” jelas Amri.

Kementan memastikan bahwa pemantauan intensif terhadap kondisi produksi, distribusi, dan harga bawang merah akan berlanjut hingga Idul Adha. Upaya ini dilakukan guna menjaga ketersediaan pasokan pangan nasional dan meminimalkan risiko kenaikan harga yang tidak terduga. “Kami ingin memastikan setiap wilayah memiliki akses yang merata,” kata Ratule.

Lihat Juga :   Bulog Yogyakarta serap hasil panen capai 76 persen dari target 2026

Menurut Dian Alex Chandra, Ketua Umum Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI), stok bawang merah hingga akhir Mei masih memadai. Namun, beberapa daerah mengalami penurunan produksi sekitar 30–40 persen akibat cuaca ekstrem. “Meski ada penurunan di beberapa sentra, pasokan nasional tidak terganggu karena distribusi tetap berjalan optimal,” katanya.

“Harga bawang merah diperkirakan masih di atas level normal hingga Idul Adha karena tingginya permintaan. Namun, kondisi akan kembali stabil setelah masuknya masa panen utama di berbagai wilayah,” tambah Dian.

Dengan strategi yang lebih cermat, Kementan berharap mampu meminimalkan dampak cuaca ekstrem terhadap pasokan bawang merah. Upaya ini mencakup penguatan sistem distribusi, peningkatan kerja sama dengan petani, serta penyesuaian kebijakan harga. “Kami terus mengoptimalkan jalur distribusi agar tidak ada titik lemah yang bisa memicu kelangkaan,” ujar Ratule.

Pemantauan Kementan mencakup seluruh aspek produksi, mulai dari kebun hingga pasar. Hal ini dilakukan agar penyesuaian bisa cepat dilakukan jika ada perubahan signifikan. “Kami ingin setiap wilayah memiliki pasokan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan, terutama saat permintaan meningkat,” katanya.

Kementan juga memperkuat pengawasan terhadap pergerakan harga bawang merah. Dengan memastikan ketersediaan pasokan, harapan mereka adalah agar harga tidak naik drastis. “Stabilitas harga sangat penting untuk kesejahteraan masyarakat, terutama pada masa liburan,” kata Ratule.