New Policy: PG Ngadirejo Kediri tetapkan masa giling tebu 200 hari

PG Ngadirejo Kediri Mengatur Durasi Masa Giling Tebu Selama 200 Hari

New Policy – Kediri, Jawa Timur – Pabrik Gula Ngadirejo Kabupaten Kediri telah mengumumkan jadwal penggilingan tebu untuk musim 2026 dengan periode selama 200 hari. Hal ini diharapkan dapat memastikan capaian produksi gula yang optimal, seiring target penggilingan tebu sebanyak 11 juta kuintal. General Manager PG Ngadirejo, Wayan Mei Purwono, mengungkapkan bahwa perusahaan telah secara resmi membuka masa giling 2026 melalui kegiatan giling perdana. “Kami berharap proses ini berjalan lancar. Durasi penggilingan yang ditetapkan mencapai 200 hari ke depan,” ujarnya di Kediri, Jumat.

Target Produksi dan Rendemen

Dalam musim giling 2026, PG Ngadirejo menargetkan penggilingan tebu sebanyak 11 juta kuintal dengan rendemen 7,8 persen. Dari jumlah tersebut, perusahaan berharap mampu menghasilkan 80.000 ton gula. Jumlah ini menjadi peningkatan dibandingkan musim sebelumnya. Dalam tahun 2025, target produksi tebu hanya sebesar 10,6 juta kuintal, dengan realisasi 70.000 ton gula. “Ini merupakan peningkatan signifikan, sebab kami yakin ketersediaan bahan baku dan kinerja pabrik akan mendukung target tersebut,” tambah Wayan.

“Kami percaya dengan kebersamaan dengan petani dan dukungan dari seluruh pemangku kebijakan, target ini dapat tercapai secara maksimal,” kata Wayan.

Kerja Sama dengan Petani

Wayan menekankan bahwa perusahaan telah membangun kolaborasi yang kuat dengan para petani, mulai dari tahap penanaman hingga pemasaran. “Kerja sama ini memastikan hasil panen berkualitas tinggi, sehingga proses giling bisa berjalan optimal,” jelasnya. Selain itu, pemerintah daerah memberikan dukungan berupa penyebaran bibit tanaman tebu yang baik, yang diyakini akan menghasilkan bahan baku dengan kualitas unggul. “Dengan bahan baku yang MBS, kami harapkan produksi gula bisa mencapai standar nasional,” tambah Wayan.

Lihat Juga :   Special Plan: MPR dorong Indonesia jadi pusat CCS Asia-Pasifik di Kuala Lumpur

Peran Masyarakat dan Pemangku Kebijakan

Perusahaan juga menjamin ketersediaan tenaga kerja dan armada transportasi yang memadai untuk menunjang kegiatan giling. Ratusan warga dari berbagai latar belakang, termasuk sopir dan pekerja, akan terlibat langsung dalam proses produksi ini. Namun, Wayan mengakui adanya gangguan yang mungkin terjadi selama proses. “Kami memohon maaf kepada masyarakat yang akan mengalami kendaraan hilir mudik selama 200 hari, karena pabrik ini adalah satu-satunya unit pengolahan gula di Kabupaten Kediri yang berada di jalur nasional,” katanya.

Peningkatan Kualitas Bahan Baku

Manajer Tanaman PG Ngadirejo, Sabar, menegaskan bahwa kualitas bahan baku tebu (BBT) menjadi kunci keberhasilan musim giling 2026. “Pihak kami bekerja sama dengan mitra petani untuk menyediakan tebu yang memiliki kualitas Manis Bersih Segar (MBS),” ujarnya. Dengan bahan baku yang memenuhi standar tersebut, Sabar yakin akan tercapai hasil yang maksimal. “Bersama melangkah dengan semangat untuk sukses giling 2026,” katanya.

Strategi Mendukung Swasembada Gula

Target produksi yang ditetapkan dalam musim giling 2026 diharapkan bisa berkontribusi pada pencapaian swasembada gula nasional. Dengan volume penggilingan sebesar 11 juta kuintal, perusahaan berkomitmen untuk memastikan pasokan gula yang stabil. Sabar menambahkan bahwa intensifnya koordinasi dengan mitra petani akan memperkuat ketersediaan bahan baku, serta memastikan kualitas tebu yang baik. “Kemitraan ini tidak hanya mendukung operasional pabrik, tetapi juga meningkatkan daya saing sektor pertanian lokal,” jelasnya.

Perluasan Jaringan Pengadaan

Dalam musim giling 2026, PG Ngadirejo juga mengembangkan jaringan pengadaan tebu dari wilayah Kediri, Blitar, hingga Malang. Selain itu, perusahaan memberikan pelatihan dan fasilitas teknis kepada petani untuk meningkatkan efisiensi pengolahan. “Dengan distribusi bahan baku yang merata, kami percaya proses produksi akan berjalan lebih terstruktur,” kata Wayan. Keterlibatan masyarakat dan pemerintah dalam program ini dianggap sebagai bentuk sinergi yang strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Lihat Juga :   New Policy: Presiden Prabowo dorong hilirisasi untuk kuasai sumber daya nasional

Proyeksi hasil giling yang ditetapkan juga menjadi fokus utama dalam upaya menekan impor gula nasional. Dengan menggiling tebu sebanyak 11 juta kuintal, perusahaan berharap mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik secara lebih efektif. Selain itu, penggunaan teknologi canggih di pabrik diperkirakan akan meningkatkan efisiensi produksi dan mengurangi kerugian akibat bahan baku yang tidak optimal.

Kesiapan Operasional dan Dukungan Infrastruktur

Wayan menyebutkan bahwa perusahaan telah melakukan persiapan matang untuk menjaga kelancaran kegiatan giling. Infrastruktur seperti alat pengolahan, gudang penyimpanan, dan sistem distribusi telah diperbaiki. “Selain itu, kami juga memastikan ketersediaan bahan bakar dan alat transportasi untuk memenuhi kebutuhan operasional selama 200 hari,” ujarnya. Dukungan dari pemerintah setempat, seperti bantuan jalan raya dan aksesibilitas wilayah, dianggap sebagai faktor penting untuk menunjang keberlangsungan musim giling.

Menurut Sabar, perusahaan juga fokus pada pengembangan teknik pertanian modern kepada petani. “Dengan mengajarkan metode penanaman dan pemupukan yang tepat, kami mengharapkan hasil panen lebih maksimal,” jelasnya. Penekanan pada kualitas bahan baku ini dianggap sebagai langkah jitu untuk menekan biaya produksi dan meningkatkan daya saing