Key Strategy: Wamendukbangga: Kolaborasi ayah-ibu kunci utama ketahanan keluarga

Key Strategy: Kolaborasi Ayah-Ibu untuk Ketahanan Keluarga

Peran Orang Tua dalam Pembangunan Sumber Daya Manusia

Key Strategy – Dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045, kolaborasi antara ayah dan ibu dianggap sebagai fondasi kunci dalam membangun ketahanan keluarga. Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Wamendukbangga) Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka menekankan bahwa peran kedua orang tua harus saling melengkapi untuk menciptakan lingkungan keluarga yang harmonis dan mendukung pertumbuhan anak secara optimal.

Menurut Isyana, tantangan bonus demografi membutuhkan peran aktif ayah dan ibu dalam memanfaatkan potensi penduduk. Data dari pemutakhiran Pendataan Keluarga (PK-25) menunjukkan bahwa sekitar 25,8 persen keluarga di Indonesia tidak memiliki peran ayah yang terlibat langsung. Dengan memperkuat kolaborasi antara ayah dan ibu, harapan terwujudnya Key Strategy dalam pembangunan sumber daya manusia dapat tercapai lebih cepat.

Program GATI: Langkah Konkret untuk Menjaga Keseimbangan Peran Orang Tua

Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) diperkenalkan sebagai solusi Key Strategy untuk mengatasi fenomena “fatherless country” di negeri ini. Program ini bertujuan memposisikan ayah sebagai pilar utama dalam pengasuhan anak, sehingga mencegah ketimpangan peran antara orang tua. Isyana menegaskan bahwa keterlibatan aktif ayah dalam keluarga adalah keharusan untuk menciptakan generasi yang tangguh secara mental dan fisik.

Kolaborasi antara ayah dan ibu tidak hanya berdampak pada kesejahteraan anak, tetapi juga memperkuat keberlanjutan pembangunan nasional. Melalui Key Strategy ini, pemerintah berupaya mendorong pola asuh yang utuh, yang mencakup aspek sosial, ekonomi, dan pendidikan. Pola ini dianggap penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang kompetitif di tingkat internasional.

Lihat Juga :   Visit Agenda: Safrizal tekankan amanah intelektual dalam pengukuhan profesor USK

Di sisi lain, partisipasi perempuan dalam angkatan kerja mencapai 56,63 persen, sementara laki-laki 84 persen. Angka ini menegaskan bahwa peran ibu tidak hanya terbatas pada pengasuhan anak, tetapi juga menjadi bagian dari kekuatan ekonomi masyarakat. Dengan Key Strategy kolaborasi antara ayah dan ibu, perempuan memiliki kesempatan untuk menyeimbangkan tugas rumah tangga dengan pekerjaan tanpa merasa tertekan.

Program GATI juga menekankan pentingnya Key Strategy dalam menumbuhkan keseimbangan tumbuh kembang anak. Ayah yang aktif dalam membantu pengasuhan memberikan dampak positif terhadap keterampilan sosial dan emosional anak, serta memperkuat hubungan harmonis di dalam keluarga. Isyana mengatakan bahwa kolaborasi ini menjadi solusi strategis untuk menghadapi tantangan demografi.

Untuk mendukung Key Strategy tersebut, Kemendukbangga/BKKBN meluncurkan program Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya) sebagai alternatif pengasuhan holistik. Tamasya tidak hanya berfungsi sebagai tempat penitipan, tetapi juga menyediakan stimulasi perkembangan kognitif, motorik, dan emosional anak. Program ini diharapkan menjadi bagian dari upaya mewujudkan keluarga yang tangguh secara struktural.

“Kolaborasi antara ayah dan ibu adalah elemen utama dalam mewujudkan Key Strategy untuk ketahanan keluarga,” jelas Isyana dalam keterangan resmi di Jakarta. “Dengan Key Strategy ini, anak-anak bisa tumbuh dalam lingkungan yang seimbang, sementara ibu dan ayah memiliki kesempatan untuk berkembang secara profesional.”