Prabowo Kritik Teori Neolib: Katanya Kakayaan Menetes ke Bawah, Kalian Percaya?

Share: X Facebook
khrisna-edit-1783876702-c6f7b3f8d3

Visit Agenda: Prabowo Kritik Teori Neolib dan Trickle-Down

Pondokkebaikan.com – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, kembali menegaskan sikap kritisnya terhadap teori ekonomi neoliberal. Dalam pidatonya yang menjadi sorotan Visit Agenda, kepala negara secara terbuka mempertanyakan validitas konsep-konsep yang selama ini menjadi pegangan banyak negara. Pernyataan ini disampaikan saat membuka puncak peringatan Hari Koperasi ke-79 di Jakarta, Minggu, 12 Juli 2026.

Dalam kesempatan tersebut, Prabowo tidak ragu untuk menyoroti kelemahan teori neolib yang selama ini dianggap sebagai solusi ekonomi global. Visit Agenda mencatat bahwa Presiden menekankan bahwa banyak pemimpin dunia kini mulai meninggalkan pendekatan tersebut karena terbukti kurang efektif.

Kritik Terhadap Konsep Trickle-Down Effect

Salah satu fokus utama kritik Prabowo adalah konsep trickle-down effect atau efek tetesan ke bawah. Teori ini mengklaim bahwa kekayaan yang terkumpul pada segelintir orang akan secara alami mengalir ke lapisan masyarakat bawah. Namun, menurut Presiden, realita menunjukkan hal yang berbeda. Visit Agenda melaporkan bahwa Prabowo menyebut konsep ini kini telah ditinggalkan oleh negara-negara Barat.

“Saya tidak percaya dengan teori-teori neolib. Katanya eh kita berpikir global, tidak ada perbatasan lagi, ya kan,” ujar Prabowo di Indonesia Arena.

Presiden juga menyampaikan bahwa ia telah lama mengingatkan bahwa kapitalisme neoliberal tidak mampu membawa kesejahteraan sejati bagi rakyat Indonesia. Keyakinan ini didasarkan pada pengamatan terhadap perkembangan ekonomi global dan dampaknya terhadap masyarakat.

Neoliberalisme dan Tanggung Jawab Individu atas Kemiskinan

Lebih jauh, Visit Agenda menyoroti bagaimana Prabowo mengkritik pandangan neoliberal yang memandang kemiskinan sebagai kesalahan individu. Dalam kerangka berpikir ini, seseorang yang miskin dianggap memiliki kekurangan dari dirinya sendiri, bukan akibat struktur ekonomi yang timpang.

“Jadi ada paham, pahamnya neolib, kalau kau miskin itu salah kamu. Iya itu pemikiran mereka,” jelas Presiden dengan nada tegas.

Pendapat ini menunjukkan bahwa menurut Prabowo, pendekatan neoliberal cenderung menyalahkan korban ketimbang memperbaiki sistem yang menyebabkan ketimpangan. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa konsep tersebut tidak lagi relevan untuk diterapkan di Indonesia.

Konsentrasi Kekayaan pada Satu Persen Penduduk Dunia

Kritik paling tajam dari Presiden Prabowo adalah mengenai konsentrasi kekayaan yang hanya dikuasai oleh satu persen dari seluruh umat manusia. Meskipun teori neoliberal mengklaim bahwa kekayaan ini akan menetes secara alami ke lapisan masyarakat bawah, kenyataannya menunjukkan hal yang berbeda.

“Dan paham neolib itu mengatakan biarlah yang kaya hanya 1%. Kalau mereka kaya nanti lama-lama kekayaannya akan menetes ke bawah. Trickle-down effect. Saya tanya, kalian percaya nggak akan netes ke bawah? He? Hah? Kalian percaya atau tidak akan menetes ke bawah?” tanya Prabowo yang dijawab tidak percaya oleh hadirin.

Respons hadirin yang menjawab tidak percaya menunjukkan bahwa banyak orang di Indonesia juga merasakan ketidaksesuaian antara teori dan realita. Visit Agenda mencatat bahwa hal ini memperkuat argumen Presiden bahwa konsep trickle-down effect hanyalah ilusi yang tidak sesuai dengan kondisi nyata.

Barat Meninggalkan Neoliberalisme, Indonesia Masih Tertinggal

Menurut Prabowo, negara-negara Barat seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Eropa Barat telah mulai meninggalkan paham neoliberal. Mereka menyadari bahwa konsep tersebut tidak lagi efektif dalam menciptakan kesejahteraan yang merata. Namun, ironisnya, Indonesia masih terus menerapkan sistem yang sama meskipun bukti menunjukkan keterbatasannya.

“Jadi saudara-saudara, tidak ada dan pemimpin Barat sekarang sudah mengakui, mereka sudah meninggalkan neolib. Mereka yang ninggalkan. Amerika, Inggris, Eropa Barat sudah tinggalkan. Hanya di kita,” kata Prabowo dengan penekanan pada kata “hanya di kita”.

Visit Agenda mencatat bahwa pernyataan ini menjadi pengingat penting bagi Indonesia untuk tidak terus-menerus mengikuti model ekonomi yang telah ditinggalkan oleh negara-negara maju. Prabowo mengajak seluruh elemen masyarakat untuk membuka wawasan dan mempertimbangkan pendekatan yang lebih sesuai dengan kondisi lokal.

Ajakan bagi yang Merasa Indonesia Suram

Di akhir sambutannya, Presiden Prabowo juga menyampaikan ajakan terbuka bagi mereka yang merasa kondisi Indonesia suram. Ia menyatakan bahwa bagi siapa pun yang tidak puas dengan situasi saat ini, mereka dipersilakan untuk mencari negara lain yang lebih baik. Visit Agenda melaporkan bahwa ajakan ini disampaikan dengan nada terbuka dan tidak bermaksud menutup diskusi.

Pernyataan penutup ini menunjukkan bahwa Prabowo tidak hanya mengkritik, tetapi juga memberikan ruang bagi masyarakat untuk berpendapat. Melalui Visit Agenda, pesan ini dapat menjangkau lebih banyak pembaca yang tertarik dengan perkembangan ekonomi dan kebijakan negara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *