Pengamat usul Kemendikdasmen buat kurikulum keselamatan transportasi
Pengamat Usulkan Kurikulum Keselamatan Transportasi Diperkenalkan Sejak Usia Dini
Pengamat usul Kemendikdasmen buat kurikulum keselamatan – Dari Jakarta, seorang ahli transportasi bernama Djoko Setijowarno menawarkan saran penting bagi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (Kemendikdasmen) untuk merancang kurikulum keselamatan transportasi sejak tahap awal pendidikan anak. Usulan ini muncul setelah kejadian kecelakaan serius di Stasiun Bekasi Timur, yang menyebabkan puluhan korban meninggal. Menurut Djoko, pendidikan keselamatan berlalu lintas sejak usia dini menjadi kunci untuk membentuk kesadaran dan kebiasaan yang baik dalam berperilaku di jalan raya.
Pendekatan 3E: Edukasi, Rekayasa, dan Penegakan Hukum
Djoko menekankan bahwa kurikulum ini harus mencakup konsep 3E, yaitu edukasi, rekayasa, dan penegakan hukum. Konsep tersebut, menurutnya, memberikan panduan holistik untuk mengurangi risiko kecelakaan transportasi. “Dengan pendekatan ini, anak-anak tidak hanya belajar tentang keamanan, tetapi juga memahami bagaimana sistem lalu lintas berjalan dan tanggung jawabnya sebagai pengguna jalan,” jelasnya. Edukasi dalam kurikulum, kata Djoko, bisa mencakup simulasi perlintasan kereta, pengenalan tanda-tanda jalan, serta pembelajaran tentang kesadaran waktu dan jarak.
“Keselamatan transportasi adalah investasi jangka panjang, bukan sekadar beban biaya,” ujarnya.
Rekayasa, di sisi lain, mengacu pada perbaikan infrastruktur. Djoko menyoroti pentingnya desain perlintasan yang aman, termasuk palang pintu sebagai alat bantu, bukan alat pengaman utama. Menurutnya, banyak kecelakaan terjadi karena kesalahan pengguna jalan yang tidak memperhatikan perintasan kereta. “Palang pintu hanya menjadi penunjuk, bukan penghalang mutlak,” tambahnya. Sementara penegakan hukum menuntut adanya sanksi tegas bagi pelanggaran aturan lalu lintas, seperti melewati perlintasan tanpa memastikan kereta telah berhenti.
Kolaborasi Lintas Instansi untuk Mewujudkan Kurikulum Efektif
Djoko juga menggarisbawahi perlunya kerja sama antara Kemendikdasmen, Kementerian Perhubungan, serta pihak terkait lainnya. “Kurikulum ini tidak bisa dibuat sendirian oleh satu instansi; kolaborasi menjadi faktor penentu keberhasilan,” katanya. Ia mencontohkan bahwa pendidikan keselamatan transportasi di sekolah bisa diselaraskan dengan kebijakan jalan raya, sehingga anak-anak terbiasa dengan aturan sejak dini.
Menurut data yang dihimpun oleh Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan pada tahun 2026, terdapat 40 insiden kecelakaan di perlintasan sebidang. Dari jumlah tersebut, 57,5 persen terjadi di perlintasan tanpa palang pintu, yakni sebanyak 23 kejadian, sementara 17 kejadian (42,5 persen) berlangsung di perlintasan yang dilengkapi palang pintu. Kejadian ini mengakibatkan 25 korban meninggal (61 persen) dan 16 korban cedera (33 persen), termasuk 5 luka berat (12 persen) serta 11 luka ringan (27 persen). Kendaraan yang terlibat dalam kecelakaan ini terutama mobil (55 persen) dan sepeda motor (45 persen).
Penyebab Utama Kecelakaan di Perlintasan Sebidang
Data juga menunjukkan bahwa perilaku pengendara menjadi pemicu utama kecelakaan. Sebanyak 34 kasus melibatkan menerobos perlintasan, yang sering terjadi saat pengguna jalan tidak menunggu kereta berhenti. “Tingkat kelalaian dan ketidakdisiplinan cukup tinggi, terutama di area dengan lalu lintas padat,” ujarnya. Selain itu, 4 kejadian terjadi karena kendaraan mogok di tengah rel, sedangkan 3 kejadian lainnya disebabkan oleh keterlambatan penutupan palang pintu.
“Hingga saat ini sudah banyak korban meninggal sia-sia karena kelalaian dan ketidakdisiplinan ketika melewati perlintasan KA,” katanya.
Djoko menjelaskan bahwa masalah perlintasan sebidang sering kali dipicu oleh kondisi fisik kendaraan. Contohnya, mobil yang berhenti mati mesin di perlintasan karena pengemudi terlalu percaya diri atau lalai. Sementara sepeda motor dengan beban dagangan berat, seperti ayam, bisa menyebabkan roda belakang tersangkut di rel. “Ini menunjukkan bahwa keselamatan transportasi membutuhkan pendekatan yang komprehensif, bukan hanya mengandalkan alat bantu,” katanya.
Kelalaian pengemudi juga sering terjadi saat truk lowdeck tersangkut di perlintasan karena gradien rel tidak sesuai dengan tinggi badan truk. Hal ini mengakibatkan perlintasan yang seharusnya aman menjadi rentan terhadap risiko tabrakan. Djoko menyoroti bahwa insiden seperti ini bisa dicegah jika ada edukasi yang lebih mendalam tentang karakteristik kendaraan dan lingkungan perlintasan.
Langkah Kecil, Dampak Besar: Pendidikan Keselamatan Berlalu Lintas
Kecelakaan transportasi yang sering terjadi di perlintasan sebidang menunjukkan bahwa kesadaran keselamatan perlu ditanamkan lebih awal. Djoko berargumen bahwa anak-anak yang belajar tentang cara aman berlalu lintas di sekolah akan membawa pola perilaku yang lebih baik ke kehidupan sehari-hari. “Kurikulum ini bisa menjadi pondasi untuk mengurangi insiden yang tidak terduga,” katanya.
Dalam konteks ini, pendidikan jalan raya tidak hanya tentang mengenali tanda-tanda lalu lintas, tetapi juga tentang memahami risiko yang ada di sekitar. Misalnya, anak-anak bisa diajarkan untuk menunggu kereta berhenti sepenuhnya sebelum melintas, serta memperhatikan lingkungan sebelum melangkah ke jalan. Selain itu, penegakan hukum di sekolah, seperti sanksi sederhana bagi pelanggaran aturan, juga bisa membantu memperkuat kesadaran keselamatan.
Djoko menambahkan bahwa pengenalan teknologi dan alat bantu keselamatan harus disertai dengan pemahaman anak-anak tentang fungsinya. “Palang pintu bukanlah pengganti kesadaran pengguna jalan, tetapi menjadi penunjuk untuk memastikan kehati-hatian,” ujarnya. Ia juga mengusulkan adanya simulasi langsung di sekolah, seperti permainan perlintasan kereta, agar anak-anak merasakan langsung risiko yang mungkin terjadi.
Potensi Kecelakaan di Masa Depan
Statistik dari tahun 2026 menunjukkan bahwa kecelakaan di perlintasan sebidang terus meningkat, meski jumlahnya tidak terlalu besar. Dengan pendidikan yang lebih baik, Djoko optimis angka kejadian bisa dikurangi secara signifikan. “Sekolah menjadi tempat pertama untuk membentuk kebiasaan, jadi keselamatan transportasi harus dimasukkan ke dalam kurikulum,” katanya.
Ia menekankan bahwa langkah kecil seperti mengajarkan kesadaran waktu dan jarak di sekolah bisa berdampak besar pada kehidupan masyarakat. “Jika anak-anak tumbuh dengan kesadaran ini, maka kecelakaan di perlintasan akan berkurang secara alami,” jelasnya. Selain itu, kekolaborasian antara Kemendikdasmen dan Kementerian Perhubungan bisa memberikan pendekatan yang lebih terpadu, sehingga kurikulum tidak hanya teori, tetapi juga aplikasi langsung.
Djoko juga meminta pihak terkait, seperti perusahaan transportasi dan pengelola jalan raya, untuk mendukung upaya pendidikan ini. “Kami perlu bersinergi dengan semua pihak agar keselamatan transportasi menjadi prioritas nasional,” ujarnya. Dengan menggabungkan edukasi, rekayasa, dan penegakan hukum, ia yakin kecelakaan yang mengorbankan nyawa bisa dihindari atau diminimalkan. “Ini bukan hanya tentang keamanan jalan raya, tetapi juga tentang keselamatan nyawa,” pungkas Djoko.
Usulan ini sej