Agenda Utama: Indonesia dorong penguatan mata uang lokal dalam transaksi antarnegara
Indonesia Dorong Penguatan Mata Uang Lokal dalam Transaksi Antarnegara
Kuala Lumpur – Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Johor Bahru bersama perwakilan Bank Indonesia (BI) di Singapura tengah memperkuat penggunaan mata uang lokal dalam transaksi lintas negara. Langkah ini diharapkan meningkatkan kemandirian ekonomi Indonesia dan Malaysia, terutama di tengah situasi ketidakpastian geopolitik global serta risiko yang muncul dari ketergantungan pada dolar AS.
Menghadapi tantangan tersebut, KJRI Johor Bahru menyebutkan bahwa perubahan nilai tukar, biaya konversi mata uang, dan tekanan eksternal menjadi alasan utama untuk mencari alternatif lebih stabil. Dalam konteks itu, transaksi bilateral dengan menggunakan rupiah dan ringgit dianggap sebagai solusi strategis yang semakin penting.
Forum Strategis untuk Mendorong Penggunaan Mata Uang Lokal
Sebagai bagian dari upaya ini, KJRI Johor Bahru dan Bank Indonesia mengadakan forum strategis berjudul “Leveraging the Benefits of Local Currency Transactions (LCT) Indonesia–Malaysia to Support Bilateral Economic Growth” di Johor Bahru. Acara tersebut menyoroti pentingnya LCT sebagai alat untuk meningkatkan efisiensi transaksi internasional.
“LCT adalah solusi taktis yang bisa mendorong efisiensi dalam transaksi lintas negara,” ujar Budi Satria, Analis Eksekutif Bank Indonesia di Singapura. Ia menekankan bahwa sistem ini dapat menghilangkan biaya konversi ganda melalui dolar AS, yang selama ini menambah beban bagi pelaku usaha.
Kerangka kerja LCT sudah dicanangkan sejak 2016, namun penerapannya masih perlu dipercepat. Pada 2025, kontribusi transaksi perdagangan antara Malaysia dan Indonesia dalam mata uang lokal baru mencapai 16,3 persen atau setara 10,6 miliar ringgit. Meski angka ini naik, mayoritas transaksi tetap bergantung pada mata uang global.
Kerangka LAJU untuk Meningkatkan Penggunaan Mata Uang Lokal
Konsul Jenderal RI Johor Bahru, Sigit S Widiyanto, menjelaskan bahwa Indonesia dan Malaysia memiliki hubungan yang sangat erat, termasuk di bidang ekonomi. Ia memberikan contoh bahwa 8 dari 11 pelabuhan feri internasional yang menghubungkan kedua negara terletak di Johor.
Dalam konteks itu, Sigit mendorong para pengusaha untuk menerapkan konsep LAJU yang terdiri dari empat poin utama: 1. L – Local Currency: Mendorong penggunaan mata uang lokal sebagai pilihan utama untuk efisiensi dan kedaulatan ekonomi. 2. A – Accelerate Adoption: Mempercepat adopsi oleh sektor perbankan dan bisnis, terutama dengan dukungan infrastruktur teknis yang telah siap. 3. J – Joint Growth: Menggunakan LCT sebagai alat pertumbuhan bersama yang memberikan manfaat seimbang bagi kedua negara. 4. U – Unlock Potential: Mengoptimalkan potensi transaksi di bidang perdagangan, pariwisata, pendidikan, dan mobilitas tenaga profesional.
KJRI Johor Bahru menegaskan bahwa pendekatan LAJU menunjukkan LCT bukan hanya alat teknis, tetapi strategi untuk memperkuat kedaulatan ekonomi dan integrasi kawasan. Dalam diskusi, para ahli dari Bank Indonesia, Bank Negara Malaysia, dan KBRI Kuala Lumpur menyampaikan manfaat praktis seperti pengurangan biaya logistik dan efisiensi dalam proses transaksi.