Program Terbaru: Mayday Mayday! Perang Picu Krisis Energi, Asia Menuju Era Pandemi
Mayday Mayday! Konflik Global Picu Krisis Energi, Asia Beradaptasi dengan Era Pandemi
Jakarta, CNBC Indonesia – Selama masa krisis bahan bakar yang dipicu perang Iran, sejumlah negara Asia mulai mengambil langkah-langkah seperti kebijakan bekerja dari rumah (WFA) dan stimulus ekonomi, yang pernah digunakan saat pandemi Covid-19. Kawasan ini menjadi wilayah paling rentan karena kebutuhan minyak mentahnya melewati Selat Hormuz, jalur yang terblokir hampir sepenuhnya oleh Iran sejak 28 Februari. Meski belum ada negara yang mengumumkan kebijakan WFA secara resmi, beberapa pemerintah mengatakan opsi ini sedang dipertimbangkan.
Kebijakan Energi yang Diperkenalkan
Korea Selatan, misalnya, menyatakan akan melakukan konsultasi dengan lembaga terkait untuk memperkenalkan kebijakan WFA, setelah mendapat rekomendasi dari International Energy Agency (IEA). “Saya rasa ide ini sangat relevan,” ujar Menteri Energi Kim Sung-whan, seperti dilaporkan Reuters, Rabu (25/3/2026). “Kami akan memprioritaskan langkah-langkah yang mampu memitigasi tekanan pada pasokan energi.” IEA sendiri telah menyetujui pelepasan rekor 400 juta barel minyak dari cadangan strategis sebagai langkah darurat.
“Ada uji coba nyata, seperti setelah invasi Rusia ke Ukraina, negara-negara Eropa mengadopsi kebijakan ini, dan diumumkan oleh pemerintah setempat. Ini membantu mereka mengatasi krisis tanpa mengorbankan kebutuhan listrik,” kata Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol dalam konferensi di Sydney.
Beberapa negara seperti Pakistan menutup sekolah selama dua minggu dan meminta pegawai lebih banyak bekerja dari rumah. Di Sri Lanka, pemerintah menetapkan hari libur setiap Rabu untuk memperpanjang pasokan bahan bakar. Filipina juga mempersingkat jam kerja di kantor-kantor pemerintahan. Singapura mendorong penggunaan peralatan hemat energi, kendaraan listrik, dan pengaturan suhu pendingin ruangan. Thailand memerintahkan birokrat untuk menunda perjalanan luar negeri dan membatasi penggunaan lift.
Pemulihan Ekonomi
Karena kenaikan biaya bahan bakar yang signifikan, sejumlah negara mengeluarkan bantuan finansial. Jepang akan menyisihkan 800 miliar yen dari dana cadangan untuk subsidi bahan bakar, dengan tujuan menjaga harga bensin sekitar 170 yen per liter. Kebijakan ini diperkirakan memakan biaya hingga 300 miliar yen per bulan. Selandia Baru juga memberikan bantuan sementara 50 dolar per minggu mulai April untuk keluarga berpenghasilan rendah.
“Keluarga-keluarga ini pasti mengalami tekanan berat akibat kenaikan harga bahan bakar global. Kami memberikan bantuan segera agar mereka bisa beradaptasi,” jelas Menteri Keuangan Nicola Willis.
Dalam beberapa wilayah terpencil, ratusan pompa bensin di Australia kehabisan stok karena panic buying. Pemerintah berhaluan kiri-tengah di sana juga mengusulkan undang-undang untuk menambah sanksi terhadap praktik kenaikan harga bahan bakar yang tidak wajar.
Perbedaan dari Masa Pandemi
Selama pandemi, bank sentral cenderung menurunkan suku bunga untuk meredakan tekanan ekonomi. Namun, saat ini, beberapa lembaga seperti Bank Sentral Australia justru menaikkan suku bunga dua kali tahun ini, mengutip risiko energi terhadap inflasi sebagai alasan utama. Perbedaan ini mencerminkan tantangan baru dalam menjaga stabilitas ekonomi di tengah krisis bahan bakar global.