Program Terbaru: Bali Mulai ‘Berdarah’ Efek Perang Iran, Jumlah Penerbang Turun Drastis
Bali Mulai ‘Berdarah’ Efek Perang Iran, Jumlah Penerbang Turun Drastis
Konflik di wilayah Timur Tengah mulai merambah ke sektor penerbangan global. Maskapai penerbangan terpaksa menghindari jalur udara di sekitar Iran serta daerah sensitif lainnya, menyebabkan pesawat harus mengambil rute yang lebih jauh. Hal ini memicu kenaikan konsumsi bahan bakar, peningkatan biaya operasional, serta perpanjangan durasi perjalanan. Dampaknya terasa kuat di destinasi wisata seperti Bali dan Thailand.
Baca: Efek Perang Iran Vs AS-Israel Lebih Parah dari Krisis Minyak 1970-an
Menurut laporan Nation Thailand, Senin (23/3/2026), sejak konflik pecah pada 28 Februari, ratusan ribu penerbangan telah dibatalkan atau dialihkan. Batasan wilayah udara di Timur Tengah yang ketat berdampak signifikan pada koridor utama Asia-Eropa, sekaligus mengganggu sektor pariwisata di Asia Tenggara.
Baca: 3 WNA Ditangkap usai Bikin Konten Porno di Bali, Terancam Bui 10 Tahun
Penggunaan bahan bakar jet yang melonjak dan perubahan rute menyebabkan maskapai mengalihkan biaya tambahan ke konsumen. Reuters melaporkan bahwa tarif tiket dan durasi perjalanan telah berubah, berpotensi menurunkan minat wisatawan untuk jalan-jalan jarak jauh. Perubahan ini dikhawatirkan akan memperparah penurunan permintaan, terutama dari pengunjung yang sensitif terhadap harga.
Sementara itu, Malaysia dinilai lebih tahan terhadap efek langsung perang Iran vs AS-Israel, karena wisatawan Eropa hanya menyumbang kurang dari 15% dari total kunjungan. Meski demikian, mereka biasanya menghabiskan waktu tinggal lebih lama dan membelanjakan lebih banyak untuk akomodasi, tur, serta belanja. CNA mencatat setidaknya 200 penerbangan dari Bandara Internasional Kuala Lumpur ke arah Timur Tengah telah dibatalkan.
Dalam situasi ini, Malaysia melihat peluang strategis. Kepala penerbangan sipil Malaysia, Norazman Mahmud, mengungkapkan bahwa bandara Thailand, Singapura, Hong Kong, dan Malaysia bisa menjadi pilihan alternatif transit yang lebih aman dan stabil. Maskapai mulai mengevaluasi ulang titik pendaratan di kawasan Teluk, sehingga Malaysia Airlines menambah kapasitas penerbangan ke Eropa. Program tambahan seperti rute ke London dan Paris pun siap dijalankan untuk memenuhi kebutuhan selama masa gangguan.