Hasil Pertemuan: Tok! The Fed Tahan Suku Bunga, Cuma Pangkas Sekali di Tengah Perang?

Tok! The Fed Tetapkan Bunga Acuan, Tunggu Penyesuaian?

Jakarta, CNBC Indonesia – The Federal Reserve (The Fed) kembali mempertahankan tingkat bunga acuan di 3,50-3,75% setelah pertemuan dua hari Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC). Rapat ini dilakukan pada Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia (19/3/2026). Meski harga minyak terus meningkat akibat ketegangan dengan Iran, The Fed tetap mengambil keputusan untuk tidak mengubah suku bunga.

Sebelumnya, The Fed menahan bunga acuan di 4,25-4,50% hingga Agustus 2025, lalu memangkasnya tiga kali dalam beberapa bulan. Januari 2026 menjadi bulan terakhir mereka mempertahankan tingkat bunga tersebut. Dalam pertemuan, 11 dari 19 anggota FOMC menyatakan dukungan untuk menjaga suku bunga.

“Ketidakpastian mengenai prospek ekonomi masih tinggi. Dampak perang di Timur Tengah terhadap perekonomian AS belum dapat diprediksi secara jelas. Komite sedang mempertimbangkan risiko pada kedua sisi dari mandat ganda mereka, yaitu stabilisasi harga dan pencapaian tingkat pengangguran maksimal,” tulis pernyataan The Fed.

Menurut data terbaru, tingkat pengangguran AS meningkat ke 4,4% pada Februari 2026, dari 4,3% di bulan sebelumnya. Angka ini mendekati tingkat tertinggi empat tahun terakhir, yaitu 4,5% yang tercatat November lalu. Sementara itu, inflasi tahunan AS tetap berada di 2,4%, tidak berubah dari Januari. Namun, Powell mengingatkan bahwa kenaikan harga minyak bisa memicu kenaikan inflasi.

“Kami berada dalam situasi sulit. Perlu menyeimbangkan risiko antara penurunan suku bunga untuk memperkuat pasar tenaga kerja dan pemeliharaan bunga tinggi untuk mengendalikan inflasi,” ujar Jerome Powell, dikutip dari CNBC International.

Powell menolak menyebut kondisi ekonomi AS sebagai stagflasi, karena pengangguran saat ini hampir mencapai tingkat normal jangka panjang. Ia menyatakan inflasi saat ini hanya sedikit di atas target 2%, dibandingkan era 1970-an yang mengalami inflasi tinggi dan pengangguran berada di dua digit.

Perang Iran dan dampaknya terhadap Selat Hormuz telah memengaruhi pasar minyak global. Meski harga minyak naik, Powell berharap peningkatan produksi energi domestik dapat mengimbangi tekanan inflasi. Jika harga minyak tetap tinggi, perusahaan AS kemungkinan akan memperluas operasi pengeboran.

Sekali Pemangkasan Lagi?

Ketidakpastian mengenai kebijakan moneter masih menggantung. Meski demikian, beberapa anggota The Fed memberi isyarat bahwa ada kemungkinan penurunan bunga tahun ini. Grafik proyeksi “dot plot” menunjukkan satu pemangkasan bunga di 2026 dan satu lagi di 2027, meski jadwalnya belum tentu.