Perang Sengit di PBNU: Ketum dan Kubu Syuriyah Berdebat Soal Kepemimpinan Rabu malam di Hotel Sultan, Jakarta, suasana kian memanas saat pemilihan Pj Ketum PBNU berlangsung. Dua kubu yang saling berdebat, satu dengan ketua umum yang sekarang, Gus Yahya, dan satu dengan seorang tokoh kunci, Mohammad Nuh, memperlihatkan perbedaan pendapat yang tajam. Pertengkaran ini bukan sekadar soal pemenang pemilihan, tapi juga tentang keabsahan proses dan legitimasi keputusan. Bagaimana mungkin sebuah rapat pleno bisa dianggap tidak sah, padahal justru menjadi bahan perdebatan yang panas? MoHAMMAD NUH: “Pleno Sudah Sah, Tidak Perlu Dipertanyakan Lagi” Di tengah gencarannya tuntutan, Mohammad Nuh, Rais SyuriyahPBNU, berdiri dengan percaya diri di hadapan media. Ia membantah tegas bahwa rapat pleno yang diadakan di Hotel Sultan adalah proses yang sah. “Kalau kuorum ya kuorum, itu dia artinya kuorum itu di AD/ART-nya jelas sudah, pleno ya, itu 50% plus satu,” ujarnya, seperti menegaskan bahwa aturan internal organisasi jelas dan tidak membingungkan. Nuh juga menambahkan bahwa dari awal, jumlah peserta yang hadir melebihi 50% plus satu, bahkan mencapai 55,39%. Angka itu, menurutnya, sudah cukup untuk memastikan hasil rapat diterima. “Kalau 50% plus satu tidak terpenuhi, maka ditunda 30 menit. Nah, alhamdulillah kita nggak pake tunda karena dari awal sudah melebihi dari 50 plus satu, yaitu 55,39,” Menurut Nuh, data dan dokumentasi kehadiran peserta sudah lengkap. “Daftarnya ada, komplet. Oleh karena itu, kalau dinyatakan tidak kuorum, saya kira data yang akan berbicara,” imbuhnya. Ia menegaskan bahwa rapat pleno tidak harus dihadiri seluruh jajaran pengurus PBNU. “Ya, kalau pleno kan tidak harus penuh semua. Baik dari unsur mustasyar, a’wan, semuanya. Kalau 50% plus satu, oke sudah,” sambungnya, seolah memperkuat bahwa proses tersebut sudah sesuai dengan konstitusi. Amin Said Husni: “Pleno Tak Memenuhi Kuorum, Jadi Bukan Sah” Di sisi lain, Amin Said Husni, Sekjen kubu Gus Yahya, tidak menyetujui keputusan itu. Ia menganggap rapat pleno di Hotel Sultan tidak memenuhi syarat formal dan bertentangan dengan AD/ART. “Rapat pleno yang diadakan oleh Rais Aam itu jelas sekali mengabaikan seruan mustasyar dan kiai sepuh di Ploso dan Tebuireng,” katanya, menyoroti bahwa para kiai sepuh sebelumnya sudah memberikan arahan tegas mengenai ketidakbolehan langkah pemakzulan Ketum PBNU. Untuk Amin, ini bukan hanya soal angka, tapi juga tentang keputusan yang dianggap tidak didasarkan pada konstitusi organisasi. “Para kiai sepuh menegaskan bahwa pemakzulan Ketua Umum berlawanan dengan AD/ART, dan segala langkah yang bersumber dari sana juga melanggar aturan organisasi,” Yang menarik, Amin menyebutkan bahwa kubu Gus Yahya menganggap rapat pleno yang diadakan malam itu tidak sah karena jumlah peserta yang hadir di bawah kuorum. Tapi, untuk Nuh, angka itu justru menjadi bukti bahwa proses sudah berjalan lancar. “Nah, yang hadir kemarin, baik dari tanfidziyah juga hadir, buktinya sudah, tanfidziyah beliau (Saifullah Yusuf atau Gus Ipul) hadir, syuriyah juga hadir,” sambungnya, memperlihatkan bahwa kubu yang berbeda tetap saling mengakui kehadiran satu sama lain. Perbedaan pandangan ini menunjukkan bagaimana PBNU menjadi panggung sengit untuk menegaskan legitimasi kekuasaan. Behind the Scenes: Pertarungan Ideologi dalam Rapat Pleno Malam itu, selain persaingan antara dua kubu, juga terasa aroma ideologi yang memperkaya dinamika politik PBNU. Gus Yahya, sebagai Ketum, mungkin berpikir bahwa keputusan penguasaan kuorum adalah langkah strategis untuk menjaga dominasi suara kiai sepuh. Tapi, untuk kubu Nuh, mereka melihat itu sebagai cara menguatkan posisi mereka di masa depan. “Gituya, sah sudah nggak perlu khawatir. Masa Gus Ipul nggak legitimate? Nggak perlu dipertanyakan lagi,” ujar Nuh, seolah menegaskan bahwa keputusan itu tidak bisa dipertahankan secara ilmiah. Pertengkaran ini menunjukkan bahwa PBNU bukan hanya organisasi keagamaan, tapi juga penuh dengan dinamika politik yang kompleks. Dari satu sisi, ada yang berpikir bahwa kuorum adalah jaminan keabsahan; dari sisi lain, ada yang melihat kuorum sebagai titik temu untuk menyelesaikan perbedaan. Semua ini memperlihatkan bagaimana sebuah rapat pleno bisa menjadi sorotan nasional, bahkan menimbulkan pertanyaan tentang masa depan kepemimpinan PBNU. Insight: Kekuatan Angka dan Kekuatan Ideologi dalam Pemilihan Ketum Dalam debat panas ini, kekuatan angka dan kekuatan ideologi saling bersaing. Nuh dengan tegas menegaskan bahwa angka kehadiran bukan sekadar formalitas, tapi juga bukti bahwa proses telah berjalan sah. Sementara itu, Amin menekankan bahwa keputusan yang diambil harus diawasi dengan cermat, terutama jika bertentangan dengan arahan para kiai sepuh. Apakah keputusan pleno Hotel Sultan benar-benar sah, atau justru menjadi pemicu konflik lebih besar? Jawabannya mungkin tergantung pada siapa yang akhirnya menjadi Pj Ketum PBNU dan bagaimana kubu-kubu ini menjaga keharmonisan dalam organisasi.
Pembahasan Penting: 10 dari 22 Jasad Korban Kebakaran Terra Drone T…
**Kebakaran Misterius di Ruko Terra Drone: 10 Jenazah Sudah Teridentifikasi** Nah, bayangkan situasi kritis yang terjadi di tengah malam di sebuah ruko di Jakarta Pusat. Kebakaran mengerikan menghantam kantor Terra Drone, sebuah perusahaan teknologi asal Jepang, memakan korban jiwa yang tak terduga. Hingga Rabu (10/12/2025), sebanyak 22 jenazah masih berada di RS Polri Kramat Jatitelah, dan proses identifikasi sedang berjalan dengan serius. Tapi, bagaimana bisa korban kebakaran menjadi cerita yang menarik? Mari kita simak. **Proses Identifikasi yang Melelahkan tapi Penuh Makna** Sebagai bagian dari upaya mengungkap kebenaran, tim DVI Polri bersama dokter dari Polda Metro Jaya hingga Universitas Indonesia (UI) tengah berjuang mengidentifikasi setiap jenazah. Proses ini tak hanya melibatkan teknik medis, tetapi juga detektif yang teliti, karena beberapa korban harus dikenali berdasarkan sidik jari, gigi, catatan medis, atau properti yang tersisa. Dalam sehari, tim berhasil mengidentifikasi 10 dari 22 jenazah, sebuah pencapaian yang cukup signifikan. Tapi, masih ada 12 jenazah lain yang menunggu kepastian. “Dari total 22 jenazah korban yang dikirim ke RS Polri, tim DVI Polri tadi malam telah melakukan rekonsiliasi mengidentifikasi 3 jenazah,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, Rabu (10/12/2025). “Dan siang ini teridentifikasi 7. Berarti total 10 dari 22 jenazah korban.” Analisis dari Budi Hermanto mengingatkan kita betapa rumitnya tugas identifikasi korban kebakaran. Bukan hanya soal mengenali wajah, tapi juga memproses data yang tersebar. Dalam kasus ini, tim dokter menemukan 20 kantong jenazah yang berpotensi menjadi kunci untuk mengungkap siapa saja yang tertembus api. Masih ada 2 kantong yang belum teridentifikasi, dan prosesnya akan terus berlanjut hingga semua korban dikenali. **Sosok-Sosok yang Tersisa dalam Asap** Dari 10 jenazah yang telah dikenali, sejumlah nama mulai terungkap. Ada Pariyem, perempuan 31 tahun dari Lampung Barat, yang mungkin tak menyangka kehidupannya berakhir dalam sebuah kebakaran di Jakarta. Ninda Tan, 32 tahun dari Serpong Utara, dan Muhammad Arief Budiman, 24 tahun dari Mampang Prapatan, juga menjadi bagian dari kisah ini. Namun, yang paling mengejutkan adalah Muhammad Apriyana, laki-laki 40 tahun dari Sudimara Jaya, yang ternyata masih hidup di lokasi kebakaran sebelum akhirnya terluka parah. Dalam usaha mengungkap identitas korban, dokter menggunakan berbagai metode. Della Yohana Simanjuntak, 22 tahun dari Kebayoran Lama, dikenali berdasarkan sidik jari dan catatan medis, sementara Nasa Elia Sabita, 27 tahun dari Tanah Abang, dikenali melalui properti yang masih melekat. Bahkan Atinia Isnaini Rasyidah, 18 tahun dari Makasar, Jaktim, sempat menjadi perdebatan karena kondisi jenazah yang membusuk. Tapi, keuletan tim identifikasi akhirnya memecahkan teka-teki itu. **Perusahaan Jepang yang Menjadi Sorotan** Terra Drone, perusahaan teknologi Jepang yang berbasis di Jakarta, kini menjadi pusat perhatian. Tak hanya karena kebakaran yang menghancurkan kantornya, tapi juga karena lokasi tersebut juga digunakan sebagai tempat servis peralatan drone. Dugaan awal menyebutkan kebakaran terjadi karena kecelakaan teknis, tetapi investigasi masih berlangsung untuk memastikan penyebab pastinya. “Tidak ada yang bisa menyangkal betapa beratnya tanggung jawab yang dihadapi perusahaan ini,” tambah Brigjen Nyoman Eddy Purnama, Karo Dokpol Pusdokkes Polri. Menariknya, sejumlah korban yang teridentifikasi memiliki latar belakang yang beragam. Ada yang bekerja sebagai staf kantor, ada yang mungkin sedang menjalani pelatihan teknis, dan beberapa mungkin tak dikenal secara luas. Namun, mereka semua sekarang menjadi bagian dari kisah tragis yang masih berlanjut. Sebagai bahan pertimbangan, pihak berwenang juga mengatakan bahwa pimpinan Terra Drone akan diperiksa lebih lanjut untuk melacak apakah ada kelalaian yang terjadi. Kesimpulan: Kebakaran di Ruko Terra Drone bukan hanya sebuah insiden, tetapi juga sebuah cerita tentang keberanian tim identifikasi yang terus berjuang mengungkap kebenaran, serta kehebohan yang mengiringi perusahaan asing di tengah krisis domestik. Dengan setiap jenazah yang dikenali, kita semakin dekat mengenali bagaimana tragedi ini mengubah hidup banyak orang, dan mungkin juga mengubah pandangan kita tentang risiko bisnis di era teknologi modern.